Bagaimana Anda bisa tahu jika orang- binatang- atau benda lain sadar
Neuron » Blog » Bagaimana Anda bisa tahu jika orang, binatang, atau benda lain sadar?

Bagaimana Anda bisa tahu jika orang, binatang, atau benda lain sadar?

Coba sebentar saja, bayangkan bahwa; apa yang anda lihat dan rasakan itu tidak benar-benar ada. Atau sebenarnya Anda berada dalam mimpi panjang. Dan apa pun yang ada disekeliling Anda tidak benar-benar merasakan kesadaran seperti yang Anda rasakan.

Beberapa konsep aliran sistem keyakinan, juga berasumsi bahwa kehidupan yang manusia rasakan saat ini, sebenarnya hanya semacam ilusi.

Bagaimana Anda bisa tahu jika orang, binatang, atau benda lain sadar? Ini akan menjadi pembahasan kita kali ini. Dan Anda dapat melakukan semacam test untuk membuktikannya.

Tehnologi mempunyai ketertarikan luar bisa, tentang hal ini. Dan para ilmuwan, tidak puas dengan begitu saja, dengan kecendrungan sebagian besar orang, dengan konsep-konsep keyakinan semata.

Mereka ingin tahu. Dan mereka ingin jawabannya. Konsepnya begitu!

Anda selama ini, berpikir bahwa, apa yang Anda rasakan, itu yang diluar Anda rasakan. Anda memproyeksikan pengalaman Anda sebagai barometer. Untuk membentuk kesimpulan dalam dimensi pikiran Anda.

Tapi, sekali lagi, bagaimana bisa tahu, bahwa binatang apa pun, manusia lain, atau apa pun yang tampaknya sadar, tidak hanya berpura-pura?

Apakah ia menikmati pengalaman subyektif internal, lengkap dengan sensasi dan emosi seperti kelaparan, kegembiraan, atau kesedihan? Seperti yang Anda rasakan?

Yang pasti, kesadaran yang bisa Anda ketahui dengan pasti, satu-satunya adalah milik Anda sendiri. Anda berpikir, bahwa itu yang dirasakan oleh yang diluar diri Anda.

Namun, sebenarnya, yang lain diluar diri adalah inferensi. Sementara, sifat kesadaran sepenuhnya pribadi.

Pertanyaan-pertanyaan ini, bukan cuma pertanyaan filosofis. Di abad saat ini, itu semakin menyeruak, meminta jawaban. Ketika asisten digital yang cerdas, mobil yang bisa mengemudi sendiri, hingga robot lainnya sudah dapat berkembang biak. Apakah AI (artificial intelligence) ini benar-benar sadar. Atau hanya tampak seperti itu?

Mungkin, di Indonesia, AI sepertinya belum begitu populer. Tadi diluar sana, kajian tentang ini semakin jauh kedepan.

Atau bagaimana dengan pasien yang koma? Bagaimana para ilmuwan dapat mengetahui dengan pasti, kesadaran seperti apa yang sebenarnya hilang. Sehingga dapat memberi resep yang sesuai pada perawat. Sehingga bentuk kesadaran itu bisa kembali.

Terserah Anda, mau percaya atau tidak, dibalik tembok-tembok laboratorium dan para pemikir modren, telah mendiskusikan ini. Mereka benar-benar tertarik untuk mendalaminya. Dan mengembangkan kerangka kerja, dalam berbagai cara berbeda. Untuk menguji keberadaan kesadaran.

Oh.. Mungkin Anda berpikir itu hal yang mustahil. Tapi, sejauh ini beberapa hal yang mustahil pada masa lalu, sudah dapat dilakukan pada masa saat ini. Dan kita semua menikmatinya.

Ide dan gagasan kecil namun terus berkembang. Yang mencari cara, menilai keberadaan dan bahkan kuantitas kesadaran di berbagai entitas.

Berikut adalah berapa test, yang mungkin menjadi tiga kategori besar. Dalam melihat korelasi kesadaran secara terukur.

Anda dapat mencari aktivitas otak yang terjadi, pada saat yang sama dengan keadaan subjektif. Atau, Anda bisa mencari tindakan fisik yang tampaknya, disertai dengan keadaan subjektif. Pada akhirnya, Anda dapat mencari produk-produk kesadaran. Seperti karya seni atau musik, atau artikel yang anda baca ini. Suatu yang terpisah dari entitas yang menciptakannya. Dan itu berguna untuk menyimpulkan keberadaan – atau tidak – kesadaran.

Baca juga: Apakah Implan Otak Adalah Masa Depan Pemikiran?

Korelasi saraf kesadaran

Beberapa dekade terakhir, para ilmuwan telah melakukan berbagai cara. Untuk menyelidiki kognisi dan kesadaran pada pasien yang tidak responsif. Dalam kasus seperti itu, tidak ada perilaku untuk diamati. Atau produk kreatif apa pun untuk dinilai.

Anda dapat memeriksa korelasi saraf kesadaran. Apa yang terjadi secara fisik di otak? Alat neuroimaging seperti EEG, MEG, fMRI dan stimulasi magnetik transkranial (masing-masing dengan kekuatan dan kelemahan mereka sendiri), dapat memberikan informasi. Khususnya, tentang aktivitas yang terjadi di dalam otak bahkan pada pasien koma dan vegetatif.

Ahli saraf kognitif Stanislas Dehaene telah mengidentifikasi, apa yang disebutnya empat tanda kesadaran – aspek spesifik dari aktivitas otak, yang dianggap perlu untuk kesadaran normal.

Dia berfokus pada apa yang dikenal sebagai “gelombang P3” di korteks dorsolateral – bagian otak di belakang dahi. Karena, tampaknya berkorelasi paling kuat dengan keadaan sadar normal. Dia juga berfokus pada medan listrik jangka panjang yang disinkronkan. Antara berbagai bagian otak, sebagai tanda utama kesadaran lainnya.

Dalam tes untuk mencari sinyal-sinyal ini pada pasien vegetatif dan kesadaran minimal, Dehaene dan rekan-rekannya, telah berhasil meramalkan; pasien mana yang paling mungkin untuk mendapatkan kembali kesadaran yang lebih normal.

Sid Kouider, adalah ahli ilmu saraf kognitif. Ia, telah meneliti bayi untuk menilai kemungkinan bahwa, bayi yang sangat muda sadar. Dia dan timnya, mencari tanda pada saraf tertentu. Yang sejalan dengan pengalaman subjektif pada orang dewasa.

Mereka mencari jenis gelombang otak tertentu, mirip dengan gelombang P3 yang difokuskan Dehaene. Yang merupakan indikator kesadaran yang dapat ditemukan pada orang dewasa.

Mereka menemukan analog yang jelas dari gelombang P3 di otak bayi semuda lima bulan. Kouider menyimpulkan – tidak mengejutkan – bahwa bahkan bayi muda sangat mungkin sadar dalam berbagai cara yang kompleks, seperti mengenali wajah.

Perilaku berkorelasi kesadaran

Ketika melihat entitas yang berpotensi sadar, yang tidak dapat berkomunikasi secara langsung, dan yang tidak akan membiarkan alat pengukuran neuroscientific di kepala mereka (jika mereka bahkan memiliki kepala), dimungkinkan untuk mempertimbangkan perilaku fisik. Sebagai petunjuk untuk keberadaan dan jenis kesadaran.

Anda tahu bahwa, sejumlah besar perilaku manusia, disertai dengan pengalaman sadar. Jadi, ketika Anda melihat perilaku serupa pada hewan lain, atau bahkan non-hewan, dapatkah Anda menyimpulkan keberadaan kesadaran secara wajar?

Misalnya, apakah kucing sadar? Arsitektur otak mereka sedikit berbeda dari manusia. Mereka memiliki korteks prefrontal yang sangat minim, yang menurut beberapa ilmuwan, adalah pusat dari banyak aktivitas tingkat tinggi otak manusia. Tetapi apakah korteks prefrontal diperlukan untuk kesadaran?

Perilaku kucing itu kompleks. Dan cukup mudah untuk dipetakan perilakunya, dalam banyak cara. Kucing mendengkur, melenturkan jari-jari kaki dan meringkuk saat dibelai. Dan cara itu mirip dengan orang-orang yang menunjukkan kesenangan, ketika dirangsang secara fisik – dikurangi dengkuran, tentu saja. Mereka mengeong keras untuk makanan saat lapar, dan berhenti mengeong saat diberi makan. Mereka menunjukkan keingintahuan atau ketakutan. Fenomena pada kucing atau manusia lain, dengan berbagai jenis bahasa tubuh.

Hal seperti ini, dan banyak perilaku lain, mudah diamati. Dapat menambah bukti meyakinkan bagi kebanyakan orang, bahwa kucing memang sadar. Dan memiliki kehidupan emosional.

Anda dapat membayangkan mencari perilaku umum lainnya pada tikus, atau semut atau tanaman – jika Anda melihat hal-hal yang cukup dekat, dengan apa yang Anda harapkan pada manusia yang sadar, Anda dapat menghargai makhluk yang diamati, dengan jenis kesadaran tertentu.

Kreatif berkorelasi dengan kesadaran

Jika, karena alasan apa pun, Anda tidak dapat melihat korelasi kesadaran saraf atau perilaku, mungkin Anda dapat melihat pada hasil kreatif. Untuk bukti yang akan menunjukkan kesadaran.

Misalnya, ketika memeriksa struktur situs kuno seperti Candi Borobudur, atau lukisan gua yang dibuat pada 65.000 tahun yang lalu, apakah masuk akal, untuk menganggap bahwa pencipta mereka sadar, dengan cara yang mirip dengan kita?

Kebanyakan orang mungkin akan mengatakan ya. Anda tahu dari pengalaman, bahwa akan dibutuhkan kecerdasan dan kesadaran tinggi, untuk menghasilkan karya-karya seperti itu, hari ini. Jadi, cukup kesimpulan bahwa, nenek moyang kuno kita, memiliki tingkat kesadaran yang sama.

Bagaimana jika penjelajah menemukan artefak yang jelas tidak alami di Mars. Atau di tempat lain di tata surya? Itu akan tergantung pada artefak yang dimaksud, tetapi jika astronot menemukan sesuatu yang mirip, dengan tempat tinggal manusia. Atau mesin yang jelas bukan manusia, akan masuk akal untuk menyimpulkan bahwa, pencipta artefak ini juga sadar.

Yang lebih dekat, kecerdasan buatan (AI) telah menghasilkan beberapa karya seni yang cukup mengesankan. Dimana kemudian, laku dijual lebih dari US $ 400.000 dalam lelang seni baru-baru ini. Pada titik dimana, orang-orang berkesimpulan bahwa, menciptakan seni membutuhkan kesadaran?

Para peneliti dapat melakukan semacam “Tes Turing artistik“: minta peserta studi untuk mempertimbangkan, berbagai karya seni. Dan mengatakan, karya seni mana yang mereka simpulkan, yang mungkin diciptakan oleh manusia.

Jika karya seni AI secara konsisten membodohi orang untuk berpikir itu dibuat oleh seseorang, apakah itu bukti yang baik, untuk menyimpulkan bahwa AI setidaknya dalam beberapa hal sadar?

Sejauh ini, AI tidak meyakinkan sebagian besar pengamat, tetapi masuk akal untuk berharap, bahwa mereka akan mampu sadar di masa depan.

Di mana ‘kesadaran-ometer’ saya?

Adakah yang bisa mendapatkan jawaban yang pasti, tentang keberadaan kesadaran? Dan berapa banyak?

Sayangnya, jawaban untuk kedua pertanyaan itu adalah tidak. Belum ada “ometer kesadaran”. Tetapi, berbagai peneliti, termasuk Dehaene, memiliki beberapa ide.

Ahli ilmu saraf Giulio Tononi dan rekan-rekannya seperti Christof Koch fokus pada apa yang mereka sebut “informasi terpadu“, sebagai ukuran kesadaran.

Teori ini menunjukkan bahwa, apa pun yang mengintegrasikan, setidaknya satu bit informasi setidaknya, memiliki sejumlah kecil kesadaran. Dioda cahaya, misalnya, hanya mengandung satu bit informasi. Dan karenanya, memiliki tipe kesadaran yang sangat terbatas. Namun, hanya dengan dua kondisi yang mungkin, hidup atau mati, itu jenis kesadaran yang agak tidak menarik.

Tes untuk kesadaran masih dalam masa pertumbuhan. Tetapi bidang studi ini sedang mengalami kebangkitan. Karena studi tentang kesadaran yang lebih umum, akhirnya menjadi proses pencarian ilmiah. Sebelum terlalu lama. Untuk mengukur seberapa banyak kesadaran hadir dalam berbagai entitas – termasuk Anda dan saya.

Sumber: theconversation.com
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *