Sejatine Ingsun – Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Mengenal Konsep Kesadaran Diri yang Sejati
Anda yang saat ini tengah membaca tulisan ini adalah apa yang orang sebut sebagai produk lingkungan.
Anda mungkin punya agama, berpikir dan merasa sebagai sesuatu tentang diri Anda.
Sekarang lihat diri Anda melalui pikiran Anda. Siapa diri Anda?
Seorang pecundangkah? Seorang yang biasa sajakah? Seseorang yang menarikah?
Apa pun itu! Sangat dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan membentuk Anda.
Siapa sejatinya diri Anda? Jika apa yang Anda pikirkan tentang diri Anda adalah produk lingkungan?
Perkenalkan! Saya Dedi Ariko.. Orang yang berada dibalik tulisan ini.
Mengajak Anda untuk mengeksplorasi tentang apa itu ‘Sejatine Ingsun!’
Apa Itu Sejatine Ingsun
Sejatine Ingsun!
Ketika seseorang lahir ke dunia, ia dapat disamakan dengan sebuah komputer canggih tanpa sistem operasi (OS) dan tanpa aplikasi.
Ibarat perangkat yang masih kosong, potensi tersebut siap diisi dengan berbagai hal, mulai dari keyakinan hingga keterampilan.
Gagasan ini berkaitan dengan konsep Sejatine Ingsun dalam Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, yang mengajak kita memahami jati diri dan kesadaran secara lebih mendalam.
Begini, jika Anda membeli handphone baru, itu masih kosong. Anda, biasanya dibantu oleh penjual akan menginstall terlebih dahulu aplikasi di dalamnya.
Dan Anda, dalam perjalannya juga akan menambah aplikasi baru dengan men-download aplikasi baru dari PlayStore.
Bagaimana, sekarang sudah dapat gambaran?
Manusia Sebagai “Komputer Canggih”
Mari kita beranalogi sekali lagi.
Bayangkan sejak kita lahir, kita laksana komputer canggih atau handpone baru yang belum ter-install satu pun program.
Lalu, orang tua Anda mulai berharap suatu tentang bagaimana Anda nantinya.
Mereka, orang tua Anda mulai memiliki impian yang mungkin hebat, jika mereka hebat.
Atau mungkin sedikit lebih hebat dari mereka.
Jika orang tua Anda, adalah orang biasa saja. Mungkin merasa sedikit berlebihan untuk berharap Anda menjadi presiden.
Tapi, bagi Jokowidodo Presiden RI ke 7, berharap anaknya Gibran dapat menjadi Presiden seperti dirinya, adalah hal yang logis.
Instalasipun dimulai dari sana!
Sepanjang tumbuh kembang, ragam keyakinan, pola pikir, dan pengalaman bertindak sebagai “OS” dan “aplikasi” yang membentuk cara kita beroperasi.
Analogi ini menegaskan betapa fleksibelnya potensi manusia untuk terus berkembang.
Anda Jokowi, Anak Elon Musk, Anak bapak Anda (yaitu Anda), Anak bapak saya (yaitu Saya), mulai di install berbagai aplikasi.
Komputer Canggih yang Masih Kosong
- Setiap komputer membutuhkan OS untuk dapat beroperasi.
- Demikian pula manusia, sejak kecil, belum memiliki “program” apa pun.
Proses Instalasi pada Manusia
- Seiring waktu, manusia “menginstal” pola pikir, keyakinan, serta nilai-nilai yang diperoleh dari keluarga, lingkungan, tradisi, hingga agama.
- Inilah yang membentuk dasar cara berpikir seseorang, mirip dengan bagaimana OS membantu komputer berfungsi.
OS pada Manusia
Pada komputer, sistem operasi (OS) seperti Windows, Linux, atau Mac OS berfungsi sebagai “otak” yang mengatur jalannya seluruh proses.
Begitu pula pada manusia, terdapat “OS” yang mengendalikan cara berpikir, berperilaku, dan merespons lingkungan.
Bedanya, OS manusia lebih kompleks karena dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal dan internal sepanjang perjalanan hidup.
1. OS sebagai Pola Pikir dan Keyakinan
OS pada manusia diumpamakan sebagai pikiran dan keyakinan.
Dalam dunia komputer, Windows atau Linux menentukan bagaimana kita mengakses dan mengatur beragam aplikasi.
Sementara pada manusia, “OS” ini terbentuk dari nilai-nilai, prinsip, serta persepsi yang diinternalisasi melalui pengalaman.
OS inilah yang membentuk kerangka berkeputusan—mengapa seseorang memilih A, menolak B, atau bahkan bersikap netral terhadap C.
Semakin kuat dan jelas “OS” yang dimiliki, semakin lugas pula seseorang dalam menghadapi berbagai situasi hidup.
2. Sumber Pembentukan OS Manusia
Manusia tidak lahir dengan OS yang telah lengkap.
Seiring pertumbuhan, “program” tersebut disusun dan berkembang melalui beragam sumber berikut:
- Tradisi dan Kebudayaan: Tradisi dan kebudayaan ibarat “pengetahuan kolektif” yang diwariskan turun-temurun.
Dari cara makan, berpakaian, hingga ritual tertentu—semuanya membentuk pemahaman awal tentang dunia.
Nilai-nilai budaya ini bisa begitu kuat mengakar, sehingga seseorang kadang tanpa sadar menjadikannya tolok ukur dalam menilai baik atau buruk. - Agama: Agama menyediakan landasan moral, etika, dan spiritual yang membimbing perilaku sehari-hari.
Melalui ajaran agama, seseorang belajar mengenai konsep benar-salah, keutamaan berbuat baik, serta tujuan hidup yang lebih besar.
“OS” yang terbentuk dari pengaruh agama biasanya memberi arah yang kuat dalam menyikapi tantangan maupun menyusun prioritas hidup.
Walau terkadang ada yang bertumbuh menjadi fanatik! Cenderung kaku dan mengikat! - Lingkungan: Lingkungan fisik dan sosial juga menjadi “bahan baku” pembentukan OS.
Kondisi ekonomi, letak geografis, serta interaksi dengan keluarga atau teman, turut membentuk cara pandang dan respons emosional.
Seseorang yang tumbuh di perkotaan dengan teknologi serba cepat, misalnya, cenderung memiliki “OS” yang berbeda dibandingkan mereka yang dibesarkan di daerah pedesaan dengan ritme kehidupan lebih lambat. - Pengalaman Personal: Terakhir, pengalaman pribadi menjadi salah satu “komponen pembelajaran” paling berpengaruh.
Buku yang dibaca, film yang ditonton, tantangan yang dihadapi, hingga perasaan yang pernah dirasakan—semuanya diolah dan diendapkan di dalam memori.
Seiring waktu, berbagai pengalaman ini terakumulasi membentuk pola pikir (mindset) dan keyakinan (belief system) yang khas pada tiap individu.
Semua ini, membuat Anda berpikir dan merasa sebagai apa dan siapa.
Yup.. Yang pikir dan rasakan saat ini!
Pentingnya Menyadari “OS” dalam Diri
Dengan mengetahui sumber dan proses terbentuknya OS pada manusia, kita bisa lebih memahami mengapa kita berpikir, bersikap, dan berkeyakinan seperti sekarang.
Kesadaran ini membuka peluang untuk melakukan “upgrade” atau bahkan “debug” ketika menemukan bug dalam “sistem” kita—baik itu berupa prasangka, kebiasaan negatif, maupun keyakinan usang yang tidak lagi relevan.
Pada akhirnya, menyadari dan mengelola OS internal dengan baik membantu kita menjadi pribadi yang lebih terbuka, adaptif, dan bijaksana dalam menghadapi berbagai perubahan di dunia luar.
Anda jadi tahu, bahwa Anda dapat mengubah bagaimana Anda berpikir dan merasa tentang diri Anda.
Perlu diketahui, apa yang Anda pikir dan rasa tentang diri Anda, itu yang akan dilihat oleh semesta dan isinya.
Saya akan menjelaskan ini pada tulisan ‘olah roso tali roso’.
Aplikasi pada Manusia
Jika dalam dunia komputer, sistem operasi (OS) hanya akan optimal ketika ditunjang oleh berbagai aplikasi, maka pada manusia, hal serupa juga berlaku.
Selain “OS” berupa pola pikir dan keyakinan, kita memerlukan “aplikasi” yang dapat diartikan sebagai keahlian, keterampilan, atau profesi.
Berikut adalah penjelasan rinci mengenai fungsi aplikasi pada komputer, relevansinya bagi manusia, serta bagaimana proses “upgrade” dan “downgrade” dapat memengaruhi perkembangan diri.
1. Fungsi Aplikasi pada Komputer
- Kemampuan Tambahan: Aplikasi seperti Corel Draw, Photoshop, dan Movie Maker menambah fungsi khusus pada komputer sehingga dapat melakukan tugas di luar kemampuan dasar OS.
Misalnya, Corel Draw untuk desain grafis, Photoshop untuk pengeditan foto profesional, dan Movie Maker untuk pembuatan dan penyuntingan video. - Tugas yang Lebih Spesifik: Berkat aplikasi, komputer dapat beralih dari sekadar menampilkan antarmuka OS menjadi alat produksi konten, pengolah data, maupun media hiburan.
Artinya, aplikasi memperluas cakupan penggunaan komputer agar selaras dengan kebutuhan spesifik penggunanya. - Fleksibilitas Operasional: Ketersediaan beragam aplikasi memungkinkan komputer memenuhi berbagai jenis pekerjaan.
Ini membuatnya fleksibel dan dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan permintaan pasar.
Artinya, dengan jenis dan spesifikasi komputer yang sama, itu dapat berbeda peran dan fungsinya.
2. Aplikasi pada Manusia: Keahlian dan Profesi
- Definisi “Aplikasi” Manusia: Pada manusia, “aplikasi” merujuk pada keterampilan, kemampuan, atau profesi yang bersifat khusus.
Seorang desainer grafis, misalnya, dapat dianalogikan sebagai seseorang yang meng-install aplikasi “desain CorelDraw” dalam dirinya.
Demikian pula seorang dokter, penulis, petani, musisi, atau pilot—masing-masing adalah “program” kemampuan yang mereka kembangkan. - Kebebasan Memilih dan Mengembangkan Keterampilan:
- Setiap individu berhak menentukan “aplikasi” mana yang ingin dipelajari dan dikuasai, sesuai minat dan peluang yang ada.
- Variasi “aplikasi” ini sangat luas—dari bidang sains, seni, teknologi, hingga bidang-bidang kreatif lainnya.
- Seperti halnya meng-install aplikasi pada komputer, seseorang dapat mempelajari keterampilan baru, mengganti, atau menambah keahlian tertentu sepanjang hidupnya.
- Sayangnya, tidak banyak yang sadar untuk bagian ini. Yang kemudian mereka pikir sebagai nasib!
- Keberagaman Peran Sosial: Karena masing-masing individu memiliki “aplikasi” berbeda, maka terbentuklah keberagaman peran dalam masyarakat.
Ada yang menjadi guru, seniman, atlet, pengusaha, dan seterusnya.
3. Upgrade, Downgrade, dan Risiko “Virus”
Sekarang lihat kembali diri Anda yang sekarang. Perharikan, OS dan aplikasi yang terinstall di dalam diri Anda.
Sekarang perhatikan apa yang Anda pikirkan.
Sadari sekarang, Anda bahkan dapat melihat pikiran Anda.
Pertanyaannya, apa yang dapat melihat pikiran Anda itu?
Sebelum itu terjawab, sekarang kita memasuki konsep upgrade dan downgrade pada komputer dapat diterapkan pada perkembangan diri manusia, serta menjelaskan analogi “virus” yang bisa menghambat proses tersebut.
Mari kita lihat!
3.1 Konsep Upgrade dan Downgrade pada Komputer
Upgrade
- Peningkatan Kapabilitas Hardware: Menambah RAM, mengganti prosesor ke versi lebih baru, atau memasang kartu grafis yang lebih kuat untuk meningkatkan kecepatan dan kualitas pemrosesan.
- Pembaruan Software: Meng-install atau memperbarui sistem operasi, driver, dan aplikasi ke versi terkini. Tujuannya, memanfaatkan fitur baru, meningkatkan keamanan, dan memperbaiki bug.
- Dampak Positif: Komputer menjadi lebih responsif, mampu menangani tugas-tugas berat, serta siap menjalankan aplikasi-aplikasi yang lebih canggih.
Downgrade
- Penurunan Spesifikasi atau Versi: Kembali menggunakan sistem operasi lawas atau menurunkan komponen hardware karena terbatasnya sumber daya atau ketidakcocokan dengan software tertentu.
- Alasan Pelaksanaan: Terkadang diperlukan jika upgrade justru menimbulkan konflik, seperti inkompatibilitas driver, ketidakstabilan sistem, atau saat komputer tidak mampu memenuhi kebutuhan daya dan ruang penyimpanan versi baru.
- Konsekuensi: Kinerja komputer dapat menurun. Meski lebih stabil atau sesuai kebutuhan sesaat, kemampuan jangka panjangnya menjadi terbatas.
3.2 Peningkatan dan Penurunan Kualitas Diri pada Manusia
Upgrade
- Belajar Hal Baru: Mengikuti kelas, pelatihan, atau workshop untuk memperluas pengetahuan maupun keterampilan. Contoh: mempelajari bahasa asing baru, kursus coding, atau pelatihan manajemen.
- Eksplorasi Kemampuan Lebih Tinggi: Menantang diri dengan target lebih ambisius, misalnya pindah ke jenjang karier yang lebih tinggi atau mencoba bidang kerja yang berbeda dari sebelumnya.
- Pengembangan Berkelanjutan: Mengambil sertifikasi profesional, melakukan penelitian, atau terlibat dalam proyek komunitas. Langkah-langkah ini dapat memperkaya portofolio dan meningkatkan nilai diri di mata masyarakat maupun industri.
Downgrade
- Enggan Beradaptasi: Menolak atau merasa malas mempelajari teknologi, metode, atau tren baru yang sebenarnya dibutuhkan untuk tetap relevan di dunia modern.
- Terjebak Rutinitas Tidak Produktif: Kebiasaan menunda pekerjaan, kurang disiplin, atau tidak memiliki tujuan jelas dapat memperlambat kemajuan dan menurunkan motivasi.
- Berhenti Belajar: Ketika individu merasa puas dengan pencapaian tertentu dan memutuskan untuk tidak lagi meng-upgrade diri, potensi yang dimiliki lambat laun bisa tumpul.
Catatan: Downgrade pada manusia tidak selalu tampak langsung, namun dapat dirasakan melalui penurunan semangat, kebosanan, hingga performa yang merosot dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari.
3.3 Risiko “Virus”: Pikiran Negatif dan Trauma
Pikiran Negatif
- Persamaan dengan Virus Komputer: Seperti virus yang menyerang sistem operasi, pikiran negatif (pesimisme, iri, rasa takut berlebih) bisa menguras energi emosional dan mental, sehingga memperlambat “proses berpikir” dan menghambat kreativitas.
- Dampak pada Perilaku: Mengurangi kepercayaan diri, meningkatkan keraguan, serta membatasi kemampuan untuk mengambil peluang baru.
Trauma
- Efek pada “Sistem” Motivasi: Pengalaman buruk seperti kegagalan besar atau kehilangan yang tak terduga bisa memunculkan luka emosional mendalam. Akibatnya, seseorang mungkin menutup diri dari perubahan dan berdiam di zona nyaman.
- Pentingnya Penanganan: Pendampingan profesional (misalnya psikolog atau terapis) dapat membantu individu mengatasi luka batin, sehingga perlahan bisa kembali “meng-upgrade” diri.
Kebencian, Dendam, dan Sikap Tertutup
- Ibarat File Terinfeksi Virus: Emosi negatif berulang seperti kebencian dan dendam dapat merusak hubungan interpersonal, mengurangi kemampuan berkolaborasi, bahkan menghambat kemajuan karier.
- Pengaruh Terhadap Performa: Sikap tertutup cenderung memotong aliran informasi dan inspirasi dari luar. Seiring waktu, ini menurunkan daya saing dan kreativitas individu.
Mengapa Poin Ini Penting?
- Kesadaran: Mengetahui bahwa manusia bisa di-upgrade atau di-downgrade memudahkan kita untuk secara sadar melakukan evaluasi diri.
- Pemeliharaan: Ibarat komputer yang perlu antivirus dan pembaruan rutin, manusia juga membutuhkan pemeliharaan mental, emosional, dan spiritual agar tetap optimal.
- Pertumbuhan Berkelanjutan: Dengan menyadari potensi “virus” dalam diri, kita menjadi lebih waspada dan siap mengembangkan mekanisme pertahanan, misalnya melalui pengendalian diri, meditasi, terapi, atau bergaul dengan lingkungan positif.
Inti utamanya: Seperti komputer yang secara rutin di-upgrade dan dilindungi dari virus, manusia pun dapat meningkatkan kualitas diri dan menjaga “sistem” agar tetap sehat.
Melalui usaha ini, setiap individu berpeluang untuk terus berkembang, menyesuaikan diri dengan tantangan zaman, dan mencapai versi terbaik dari diri mereka sendiri.
Dalam analogi antara manusia dan komputer, “aplikasi” berperan penting untuk memperluas dan mendefinisikan kegunaan serta fungsi kita di tengah masyarakat.
Seperti komputer yang dapat terus di-upgrade aplikasinya, manusia juga bisa terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Namun, kita perlu waspada terhadap ancaman “virus” berupa pikiran negatif, trauma, dan kebencian yang berpotensi menghambat pertumbuhan pribadi dan profesional.
Melalui kesadaran akan pentingnya “aplikasi” pada manusia—serta pemahaman tentang upgrade, downgrade, dan potensi gangguan—setiap individu diharapkan mampu mengoptimalkan perannya.
Dengan demikian, kita dapat menjadi “komputer canggih” yang selalu siap menghadapi berbagai tantangan hidup.
Identitas, Program, dan Keterjebakan
Kajian kita selanjutnya, membahas bagaimana identitas sering kali berperan sebagai “program” yang membatasi cara seseorang memandang diri sendiri dan dunia sekitarnya.
Analogi yang digunakan adalah sebuah komputer yang secara keliru merasa dirinya bukan lagi perangkat keras utama, melainkan hanya sebatas sistem operasi (OS) atau aplikasi.
Lupa bahkan tidak tahu ‘Sejatine Ingsun’
1. Label Diri yang Menyelimuti
Definisi Label Diri
- Label diri adalah serangkaian kategori yang kita tempelkan pada diri sendiri—mulai dari suku, agama, profesi, status sosial, hingga ke stigma.
- Contoh: “Saya orang Jawa,” “Saya Muslim,” “Saya seorang dokter,” “Saya orang kaya,” “Saya hanya ibu rumah tangga,” “Saya brahma,” “Saya Sudra,” “Saya rakyat biasa,” dan lain sebagainya.
Tujuan Awal dan Efek Samping Label
- Tujuan Awal: Label sebetulnya memudahkan seseorang untuk mengenali identitas dan peran di masyarakat. Kita menjadi tahu posisi dan tanggung jawab kita.
- Efek Samping: Kadang, label tersebut menjadi kaku dan membuat kita menggeneralisasi diri. Kita bisa terjebak dalam definisi sempit dan cenderung menolak informasi atau pengalaman yang tidak sejalan dengan “label” itu.
Dampak Negatif Penyempitan Identitas
- Berkurangnya Fleksibilitas: Ketika label terlalu dominan, kita sulit menerima perubahan atau inovasi.
- Menutup Peluang: Kesempatan untuk belajar hal baru sering terlewat karena kita merasa itu “bukan bagian dari identitas” kita.
- Kecenderungan Menghakimi: Label cenderung membuat kita lebih cepat menghakimi orang lain—dan diri sendiri—secara terbatas, hanya berdasarkan kategori tertentu.
2. Keterjebakan dalam OS dan Aplikasi
Analogi Komputer yang Salah Identitas
- Komputer Mengira Dirinya Windows: Bayangkan sebuah komputer fisik yang mengidentifikasi dirinya sebagai Windows (OS). Padahal Windows hanyalah perangkat lunak yang berjalan di atas sistem hardware.
- Manusia Mengira Dirinya Aplikasi: Demikian pula, seorang manusia sering mengira dirinya hanya sekadar “dokter” (profesi) atau “orang Jawa” (suku). Padahal jati diri manusia jauh lebih luas daripada label profesi atau budaya.
Tenggelam dalam Program
- Fungsi Program: Dalam komputer, program (OS atau aplikasi) berfungsi mempermudah tugas tertentu. Pada manusia, “program” bisa berupa nilai-nilai budaya, sistem kepercayaan, dan kebiasaan hidup.
- Risiko Tenggelam: Saat kita terlalu melebur dalam “program” tersebut, kita kehilangan kemampuan menilai diri secara menyeluruh.
Fokus kita menjadi sempit, hanya berpusat pada peran atau label tertentu, bukan pada esensi diri yang lebih mendalam.
Kehilangan Kesadaran sebagai Subjek Utama
- Sejatine Ingsun Terabaikan: Kita lupa bahwa kita adalah “pemilik” kesadaran yang dapat memilih, bukan sekadar “produk” dari beragam program eksternal.
- Fungsi Kesadaran: Kesadaran memungkinkan kita mengatur berbagai “program” agar selaras dengan tujuan hidup. Namun, jika kita tenggelam dalam satu label, kemampuan mengatur itu melemah.
Teruslah membaca! Dan besabarlah.. Sebentar lagi Anda akan menemui Sejatinya diri Anda.
Apa yang orang sebut sebagai Sejatine ingsun!
3. Mengapa Hal Ini Berbahaya?
Kaku dalam Menghadapi Perubahan
- Label yang terlalu kuat membuat kita sulit beradaptasi di era yang serba cepat berubah. Kita cenderung mempertahankan status quo, meskipun sudah tidak relevan.
- Akibatnya, potensi berkembang tertahan karena kita sendiri enggan keluar dari kotak identitas lama.
Rentan Terhadap Konflik
- Ketika individu atau kelompok begitu melekat pada identitas tertentu (agama, suku, profesi), potensi konflik dengan identitas lain menjadi tinggi.
- Hal ini terjadi karena kita cenderung membangun sekat antara “kami” dan “mereka.”
Terhambatnya Transformasi Diri
- Proses belajar dan refleksi diri menuntut kelapangan menerima hal-hal baru.
Jika identitas sudah bersifat absolut, kita akan menolak perubahan, bahkan saat perubahan itu sebenarnya menguntungkan.
4. Bagaimana Mengenali dan Mengatasi Keterjebakan Identitas?
Evaluasi Diri secara Berkala
- Luangkan waktu untuk bertanya: “Apakah saya benar-benar identik dengan label ini, atau saya sekadar menjalankan peran sementara?”
- Menggali pertanyaan semacam ini dapat membantu kita memahami bahwa label hanya sebagian dari diri, bukan keseluruhan.
Fokus pada Esensi Diri
- Menumbuhkan kesadaran bahwa diri kita adalah “subjek utama” yang mampu mengolah beragam kepercayaan, pengetahuan, dan peran.
- Dengan begitu, kita menyadari kita bukan hanya dokter, bukan hanya penganut agama tertentu, tetapi juga manusia dengan spektrum potensi yang luas.
Terbuka Terhadap Pengalaman Baru
- Cobalah hal-hal di luar kebiasaan agar “program” baru bisa kita install. Semakin kita belajar, semakin lemah pula dominasi satu label.
- Memperluas wawasan melalui bacaan, diskusi, atau pelatihan lintas disiplin dapat memperkaya pemahaman diri.
Refleksi dan Meditasi
- Kegiatan seperti meditasi, jurnal pribadi, atau retret spiritual bisa membantu membongkar kepemilikan identitas yang kaku.
- Dengan refleksi, kita menyadari diri kita secara lebih menyeluruh dan lepas dari kebiasaan menilai segala sesuatu berdasarkan “label.”
Identitas, Program, dan Keterjebakan menyoroti bagaimana label-label eksternal—yang semestinya menjadi sarana mengenal diri—justru bisa berubah menjadi penghalang pertumbuhan.
Ibarat komputer yang lupa bahwa ia memiliki perangkat keras dan justru mengira dirinya adalah Windows atau Photoshop, manusia pun sering luput menyadari bahwa jati dirinya jauh lebih luas daripada sekadar label suku, agama, profesi, atau status sosial.
Dengan menumbuhkan kesadaran bahwa kita adalah “subjek utama”, kita dapat mengendalikan “program” atau “label” yang ada, alih-alih terjebak atau terkekang oleh mereka.
Tujuannya: mencapai keseimbangan, kebebasan dalam berpikir, dan fleksibilitas dalam menyikapi perubahan zaman.
Sekarang, mari kita bahas! Apa yang dapat melihat pikiran Anda yang sedang berpikir saat ini.
Jawabannya adalah kesadaran.
Fungsi kesadaran yang memungkinkan Anda melihat; OS dan berbagai aplikasi yang terinstall dalam diri Anda.
Jika sebelumnya, Anda belum pernah menyadari keberadaan ‘sesuatu’ yang mampu melihat pikiran Anda.
Sesuatu yang dapat melihat apa yang terinstall dalam diri Anda.
Sekarang sadarilah, sesadar-sadarnya!
Itulah apa yang orang sebut sebagai “Sejatine Ingsun”
Sejatinya Anda!
Sejatine Ingsun: Menyadari Diri Sejati
Sekarang Anda telah sedikit mengenal Sejatine Ingsun!
Dalam perjalanan spiritual dan pemahaman diri, istilah “Sejatine Ingsun” adalah upaya untuk menembus batas-batas label, identitas, serta “program” yang selama ini membentuk kepribadian.
Membentuk tentang Anda berpikir dan merasa!
Tarik nafas dan relaksasi saja dulu.
Kita akan memasuki bagian yang membahas makna konsep tersebut, beserta implikasinya terhadap kebebasan dan kekuatan yang dimiliki setiap individu.
1. Makna “Sejatine Ingsun”
Definisi Dasar
- Sejatine Ingsun secara harfiah dapat diartikan sebagai “sejatinya diri saya.”
Makna ini mengacu pada pemahaman bahwa di balik segala atribut lahiriah dan label sosial, terdapat suatu inti kesadaran yang menjadi pusat kendali manusia.
- Konsep ini kerap muncul dalam tradisi spiritual Jawa dan filsafat kejawen, namun esensinya bersifat universal: manusia perlu mengenali jati diri yang melampaui identitas semu, seperti status, profesi, sistem keyakinan atau kepercayaan tertentu.
Manusia sebagai Subjek Kesadaran
- Disebut “subjek kesadaran,” karena dalam Sejatine Ingsun ditekankan bahwa manusia tidak pasif menerima “program-program” dunia luar.
Justru, kita memiliki kapasitas untuk mengontrol, menilai, dan memilih apa saja yang akan diadopsi sebagai bagian dari diri.
- Ibarat komputer, kita bukan sekadar OS atau aplikasi, melainkan “mesin utama” yang bebas menentukan apa yang akan diinstal atau dihapus sesuai kebutuhan dan tujuan hidup kita.
Keterkaitan dengan “OS” dan “Aplikasi”
- Konsep OS (pola pikir, keyakinan) dan aplikasi (keterampilan, profesi) adalah sarana yang kita gunakan untuk berinteraksi dengan realitas.
Sejatine Ingsun menegaskan bahwa alat-alat ini penting, namun bukan “diri” kita yang sebenar-benarnya.
- Manusia boleh berganti keyakinan, menambah keterampilan, atau mengubah pola pikir tanpa kehilangan esensi diri yang sejati.
2. Kebebasan Memilih dan Mengembangkan Diri
Entitas Bebas Menentukan Jalan
- Kesadaran bahwa kita bukan sekadar produk pikiran atau kebudayaan tertentu memberikan ruang bagi kebebasan.
Artinya, seseorang tak perlu merasa terkurung oleh label yang melekat sejak lahir, entah itu ras, suku, atau agama.
- Dari perspektif ini, setiap manusia memiliki hak dan kemungkinan untuk merekonstruksi diri, belajar hal baru, bahkan meninjau ulang keyakinan lama yang mungkin tak lagi relevan.
Proses Pembelajaran dan Perbaikan
- Sejatine Ingsun mendorong manusia untuk terus “meng-upgrade” diri.
Hal ini dapat dilakukan dengan menambah wawasan, menggali bakat, atau memperluas jaringan sosial—semua bertujuan memperkaya kesadaran.
- Saat menyadari peran sebagai subjek kesadaran, kita juga dapat memperbaiki “program” kehidupan.
Misalnya, menyingkirkan kebiasaan buruk, mengganti pola pikir negatif, atau mencari lingkungan yang lebih kondusif demi pertumbuhan diri.
Pemilihan “Program” Kehidupan
- Menyadari Kebebasan: Kita berhak memilih jalur pendidikan, karier, atau nilai-nilai tertentu tanpa terikat sepenuhnya pada warisan budaya yang mungkin tidak lagi sesuai dengan panggilan batin.
- Kemandirian: Hal ini memupuk kemandirian dalam proses pengambilan keputusan. Segala pilihan diambil dengan pertimbangan personal yang matang, bukan sekadar ikut arus atau tradisi.
3. Kesadaran sebagai Sumber Kekuatan
Lepas dari Pengaruh Negatif
- Ketika menyadari bahwa label hanyalah hasil “instalasi” yang dapat diubah, manusia akan lebih mudah melepaskan berbagai pengaruh negatif.
- Misalnya, rasa takut berlebihan, trauma sosial, atau dogma yang mengekang bisa ditinjau ulang.
Ini membuat seseorang lebih terbuka dan tangguh menghadapi perubahan serta tantangan.
- Ingat! Bahkan Apa yang orang sebut sebagai nabi adalah mereka yang terbebas dari ‘belenggu’ sistem keyakinan yang sudah usang. Dan membangun nilai-nilai baru yang lebih relevan pada zamannya.
Menjalani Identitas secara Harmonis
- Sejatine Ingsun tidak menyarankan untuk membuang seluruh identitas yang melekat, melainkan menjalankannya secara selaras.
Kita tetap bisa menjadi anggota masyarakat tertentu, memeluk agama tertentu, dan memiliki profesi tertentu, tanpa terjebak pada definisi sempit diri.
- Kesadaran mendalam bahwa identitas tersebut hanyalah “bagian” dari kehidupan, bukan “keseluruhan” kita, menciptakan keseimbangan antara peran sosial dan realitas batin.
Penggerak Tindakan Kreatif
- Dengan menyadari bahwa diri tidak terbatas pada satu “program,” manusia lebih berani bereksperimen dan berkreasi.
Kebebasan ini memicu inovasi—baik dalam pekerjaan, seni, maupun cara pandang terhadap masalah.
- Individu yang merasakan kebebasan dari label cenderung lebih fleksibel dalam menerima ide baru, bekerja sama dengan orang lain, dan berinovasi.
- Memicu kemampuan manusia bertransformasi! Berinovasi yang kemudian orang sebut sebagai sakti. Kesatian adalah kemampuan manusia menghadapi tantangan pada zamannya.
Sejatine Ingsun merupakan pemahaman bahwa manusia, pada hakikatnya, adalah subjek kesadaran yang mampu memilih, mengganti, dan mengembangkan “program” kehidupannya.
Melampaui sekadar kumpulan label dan peran sosial, setiap individu memiliki inti diri yang bebas dan kuat.
Dari sanalah sumber kekuatan muncul: kemampuan melepas pengaruh negatif, menata ulang keyakinan, serta mengeksplorasi potensi tanpa batas.
Menyadari hakikat ini tidak serta-merta memutuskan ikatan dengan budaya atau nilai-nilai tertentu, namun justru memaknai semuanya secara proporsional.
Sebab ketika kita tidak lagi terjebak pada label, semua identitas eksternal dapat dijalani dengan lebih harmonis dan berkesadaran, sehingga memunculkan kebijaksanaan serta kelapangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Cara Menemukan dan Memelihara Sejatine Ingsun
- Refleksi Rutin: Luangkan waktu untuk merenung, menilai pikiran yang muncul, dan memastikan apakah keyakinan tertentu masih relevan dengan nilai-nilai yang ingin dijalani.
- Membuka Diri terhadap Pembaruan: Seperti komputer yang memerlukan pembaruan sistem, manusia juga perlu meng-upgrade pengetahuan, keterampilan, dan cara pandang.
- Menjaga Lingkungan Sosial yang Positif: Berada di antara individu yang mendukung pertumbuhan akan mempermudah proses membersihkan “virus” negatif.
- Menciptakan Keseimbangan Antara “OS” dan “Aplikasi”: Gunakan keahlian (aplikasi) secara produktif tanpa melupakan inti kesadaran (OS) yang menopangnya.
Perhatikan pula aspek spiritual, emosional, dan mental sebagai fondasi yang kuat.
Kesimpulan
Sejatine Ingsun dalam konteks Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu menyerupai undangan bagi kita untuk meninjau ulang apa yang sudah ter-install di “komputer diri” kita.
Melalui kesadaran inilah, kita memahami bahwa beragam keyakinan, budaya, hingga profesi hanyalah “program” penunjang—bukan identitas sejati.
Dengan selalu ingat bahwa manusia adalah “komputer canggih” yang dapat meng-upgrade diri, setiap individu akan memiliki kebebasan untuk berkembang tanpa batas.
Waspada terhadap “virus negatif” dan berani mengeksplorasi potensi sejati yang ada di dalam diri.
“Saat kita sadar bahwa kita bukan sekadar OS atau aplikasi, di situlah pintu pembaruan dan pertumbuhan sejati terbuka lebar.”
Saya tidak mau menyebut: lahirnya nabi baru!