bosan dan prustasi dalam meditasi

Bosan Dan Prustasi Dalam Meditasi

Meditasi itu bukan tentang sensasi, walaupun saat dalam prosesnya berkemungkinan terjadi. Pencapaian meditasi itu bukan pada sensasi. Tapi perubahan dalam diri kita. Artinya, diri kita yang berubah. Jadi, walau pun tidak merasakan senasi apa-apa, namun kondisi diri kita berubah, bukankah itu baik dan sudah mencapai tujuan.

Berbagai laku spiritual itu jalan. Jalan untuk membuat diri kita berubah. Meditasi hanyalah salah satu cara. Artinya, banyak cara lain untuk merubah diri. Melalui ilmu pengetahuan juga bisa berubah.

Kalau soal sensasi, itu hanya fenomena semata. Terjadi karena aksi dari sistem biokimiawi dalam otak kita. Terpicu oleh kondisi pikiran. Kalau sekedar mau sensasi begini dan begitu, artinya tidak harus meditasi; mengkonsumsi zat-zat kimia tertentu saja, maka otak kita akan terstimulasi memunculkan sensasi.

TANYA: Yg sy pahami dlm neurolism ini kt brkmeditasi adlh tanpa mngharapkan adanya sensasi2 khusus, bahkan tanpa expectasi apapun yg brpotensi mngganggu esensi dr meditasi itu sndiri yaitu perubahan kondisi mental kearah yg positif, nah prtanyaannya yg dimaksud perubahan yg positif itu yg spt apa krn khawatirnya bagi temen2 atau sy sndiri nantinya akan bosan dan bahkan frustasi 😜 kl sdh tiap hr meditasi brjam2 tapi tanpa harapan yg konkrit krn kmbali lagi saat meditasi kt gk blh brharap nanti spt ini dan itu.. sedang bila hasil akhirnya adalah kedamaian hati kan mngkin bs didapat dg rutinitas harian misal ibadah, shopping bareng klrga atau bahkan dg bercinta 😜😂😂

So.. meski kita gk blh berharap sensasi ini itu, apa yg bs kita harapkan dari aktivitas tiap hari meditasi yg lbh kongkrit/nyata master…🙏

JAWAB: Adakah sesuatu yang lebih baik dari kemampuan manusia mengendalikan pikirannya?
Sebelum kita melanjutkan lebih jauh, mungkin Budha Sidharta Gautama bisa kita anggap sebagai meditator penginspirasi. Apakah dia berbicara tentang hal lain selain pengendalian diri sendiri?

Soal sensasi, kita memang tidak mengharapkan. Namun potensi berbagai sensasi dalam meditasi akan terjadi. Sensasi itu adalah fenomena alamiah dalam kondisi meditasi, karena manusia mempunyai sistem syaraf yang salah satu fungsinya adalah memunculkan sensasi. Jadi, sensasi adalah fenomena, bukan tujuan.

Artinya, saat manusia dalam meditasi tidak mengalami sensasi, bukan berarti tidak meditasi. Saat orang melatih mengendalikan pikirannya, entah dengan cara duduk diam dalam ruang gelap, atau sambil beraktifitas, atau sambil shopping, bercinta 🤣 dan lain-lain saya kira juga dapat mencapai tujuan.

Ya, meditasi adalah salah satu cara untuk melatih diri dalam mengendalikan pikiran. Salah satu!… Ya, artinya ada banyak cara lain dalam hal ini. Artinya, manusia bisa pakai cara yang sudah ada dan terbukti berhasil aatau dengan kreatifitas sendiri, sah-sah saja.

Yang sering membuat kita prustasi itu karena ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak kita… Dan itu sah-sah saja juga dalam kehidupan manusia. Sangat alamiah…

Jika tidak ingin prustasi, stress, pusing, maka alternatifnya mungkin manusia jangan memiliki kehendak. Duduk diam menyepi disuatu tempat.

Saat berniat meditasi, sebenarnya kita secara sadar telah memiliki harapan/kehendak. Dan biasanya, harapan dan kehendak tersebut tidak dapat kita aplikasikan dalam kondisi normal. Ini disebut niat yang kita deglarasikan sebelum meditasi.

Namun ada perbedaan antara niat yang ingin dicapai melalui meditasi dengan kehendak dalam meditasi. Untuk niat saya kira sudah jelas, saat meditasi atau melakukan berbagai ritual spiritual pasti dilandasi motivasi untuk berubah menjadi lebih baik. Ini sangat tergantung krn personal sifatnya.

Kehendak ‘dalam meditasi’ seperti ingin merasakan ini dan itu, mencari-cari sesuatu yang bisa dirasakan dalam meditasi. Atau ibarat kata; kita ingin menciptakan skenario pengalaman dari meditasi itu sendiri. Ini secara tidak sadar akan mengengkang dan atau membuat batasan-batasan dari kemampuan kecerdasan yang terpendam. Terpendam dalam dimensi pikiran yang selama ini terbentuk oleh lingkungan.

Sederhananya, jika kita sudah tahu secara sadar; ngapain pula kita ingin masuk kebawah sadar. Jika kita sudah tahu skenarion yang benar ngapain pula kita berupaya mencari sesuatu yang belum terpikirkan.

Ada yang terkurung dalam diri oleh paradigma berpikir yang seolah benar, dan ini hanya bisa dibebaskan dengan tidak membuat batasan-batasan tertentu dalam pikiran itu sendiri.

Jebakan pikiran mencari bentuk dalam meditasi

Kita pergi kesuatu tempat, untuk mencari sesuatu yang kita tidak tahu bentuknya. Dan dalam perjalan kita malah terjebak dengan asumsi bahwa yang kita cari sebuah kotak berwarna kuning. Karena kita pikir warna kuning. Kata tetangga, begitu soalnya. Saat mencapai tujuan, kita bolak-balik, muter-muter, miring kekiri-kekanan, namun tidak menemukan yang kita cari. Pikiran kita terfokus dengan kota berwarna kuning. Kita tidak melihat kubus berwarna biru yang sudah terinjak, tertendang, diduduki karena capek gulang-gulung mencari kesana-kemari. Semoga deskripsi dalam menggambarkan manisnya buah manggis pada yang belum pernah memakannya ini sedikit bisa menggambarkan…

Saat anda memahami esensi yang ingin saya sampaikan, bahkan anda tidak perlu meditasi lagi. Ini seriyes…

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top