Pengaruh Gen Dan Lingkungan Dalam Membentuk Manusia

Pengaruh Gen Dan Lingkungan Dalam Membentuk Manusia

Seberapa besar pengaruh gen yang diwarisi dari orang tua dan seberapa kuat lingkungan membentuk kita hingga ke titik saat ini? Pertanyaan ini, juga akan menguak berbagai faktor yang bahkan sering manusia anggap sebagai penentu nasib atau takdir!…

Perdebatan antara kodrat dan pengaruh lingkungan (pola asuh) memiliki sejarah panjang dan bernuansa politis. Karena, menyatakan bahwa; Gen adalah pengaruh terkuat untuk membentuk seseorang–inteligensi, kepribadian, karakter, kebaikan–sebanding dengan meminimalkan kekuatan orang tua, sekolah, atau lingkungan budaya untuk membentuk sifat-sifat seseorang.

Namun, ada banyak bukti bahwa pengasuhan dalam bentuk pengalaman yg kita miliki dan lingkungan tempat kita tinggal membalas tindakan alam dalam bentuk organisme gen.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Michael J Meaney, seorang profesor di McGill University yang mengkhususkan diri dalam psikiatri biologi, neurologi, dan bedah saraf, yang terutama dikenal karena penelitiannya tentang stres, perawatan ibu, dan ekspresi gen, mengungkapkan bahwa; ada banyak fakta-fakta yg layak untuk di pertimbangkan.

“Pikirkan tentang kutu air,” ujar Meaney pada Dalai Lama, sebagaimana di tulis dalam sebuah buku bertajuk Neuroplastisitas. Dalam mahluk air yg kecil ini, sebagian memiliki ekor yg panjang dan tajam serta helm; sebagian yg lain tidak memiliki perlengkapan yg mengesankan ini. Tampaknya, hal ini tidak lebih mengejutkan dibanding pernyataan bahwa sebagian orang memiliki golongan darah A dan yg lain tidak, karena ada perbedaan gen untuk golongan darah.

Namun, hal yg aneh tentang kutu air adalah fakta bahwa dua ekor kutu air dengan materi genetik yg identik dapat berlawanan dalam hal ekor dan helm!… Dan, ini adalah sesuatu yg tidak Anda lihat pada golongan darah. “Jika ada dua orang yg memiliki gen golongan darah yg identik, maka dapat dipastikan bahwa mereka akan memiliki golongan darah yg sama.

Jika anda meletakkan kutu air muda dalam akuarium tanpa pemangsa, maka kutu air tersebut akan tumbuh tanpa perlengkapan aslinya; berupa helm dan ekor berduri! Namun, jika anda meletakkan hasil klon identik ke dalam akuarium, dan anda menambahkan bau kimiawi ikan yg menganggap kutu air sebagai santapan lezat, maka ia akan menumbuhkan helm dan ekor panjang berduri.

Ini terjadi sebagai respons hewa terhadap sinyal lingkungan, persepsi adanya ancaman.  Namun, pengasuhan belum berakhir dengan kutu air. Jika Anda memindahkan kutu air yg bersenjata lengkap ke dalam akuarium yg bebas bau pemangsa, senjata pelindung dirinya juga akan menghilang.

Sampai di sini, cerita tersebut tidak dianggap mengejutkan. Menumbuhkan helm dan ekor yg menakutkan tidak berbeda dari, misalnya, seekor Yak–sejenis sapi yg hidup di sekitar Himalaya dan Asia Tengah–yg menumbuhkan jubah bulu yg lebih tebal sebagai respon terhadap periode yg sangat dingin.

Namun, yg menakjubkan tentang hal ini, dan apa yg membuatnya relevan dengan pembahasan ini, adalah fakta bahwa jika mereka adalah kutu air betina, dan Anda memindahkannya ke akuarium tanpa pemangsa (predator) dan membiarkan mereka bertelur, yg Anda temukan adalah keturunan yg lahir dari ibu yg semasa hidupnya pernah melihat atau membaui pemangsa, sehingga membuat keturunannya memiliki helm yg besar, meskipun ia belum pernah melihat atau membaui pemangsa.

Ini mengambarkan; jelaslah bahwa pengalaman ibu diteruskan pada keturunannya.

Alam telah memungkinkan proses ini untuk terjadi lebih dari satu kali. Kadal, yg cukup mengundang selera bagi ular, memiliki kemungkinan lebih besar untuk berakhir sebagai santapan makan siang jika bertubuh kecil, dengar ekor pendek, dan bereaksi terlalu lambat ketika mencium bau ular. Namun, ketika jika ibu kadal pernah mencium bau ular, atau bahkan jika ia bertelur di lingkungan yg bebas ular, keturunannya akan tumbuh menjadi besar, dengar ekor panjang, dan bereaksi lebih kuat terhadap bau ular ketimbang kada yg ibunya tidak pernah membaui ular.

Bagi kutu air dan kadal, lingkungan ibu mempengaruhi aktivasi respons pertahanan diri pada keturunannya. Dan kuat dugaan proses yg sama terjadi pada mamalia dan manusia. Artinya, bisa jadi; memori masa lalu, pengalaman, dan hal-hal yg terjadi pada orang tua, mempengaruhi kondisi fisik dan pikiran anda, saat ini. Lingkungan anda saat ini, akan mempengaruhi anda yg nantinya akan diwarisi pada keturunan anda selanjutnya.

Tulisan awal ini, hendaknya memicu pemikiran-pemikiran baru untuk dikembangkan. Memicu pertanyaan-pertanyan yg nantinya mengungkapkan berbagai fakta baru, yg belum terpikirkan sebelumnya!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *