Apa itu ego dan bagaimana cara menghilangkannya
Neuron » Blog » Apa itu ego dan bagaimana cara menghilangkannya

Apa itu ego dan bagaimana cara menghilangkannya

Dalam banyak pembicaraan seputar dunia spiritual, saya sering bertemu orang-orang yang seolah anti dengan ego. Meninggalkan ego, dianggap menjadi bagian dari pencapaian spiritual itu sendiri.

Sebelum tersesat lebih jauh, kita harus tahu dulu apa itu ego? Apa yang buruk dari ego, sehingga harus dihilangkan dari dalam diri kita?

Ego itu adalah bagian dari pikiran. Terbentuk melalui proses hidup. Disebut sebagai kepribadian. Ego adalah identitas dalam bentuk sensasi yang dirasakan.

Pengalaman hidup, wawasan, dari apa yang didengar, dibaca, dilihat, dilalui dalam perjalanan hidup, menjadi faktor dominan yang membentuk ego. Termasuk aspek bakat, hingga keahlian dan atau kemampuan yang dicapai. Makanya, ego juga sering dikaitkan dengan harga diri atau rasa percaya diri.

Ego membawa manusia membentuk citra dirinya. Berdasarkan idealisme yang muncul dari gagasan/ide. Dan ini sangat dipengaruhi oleh standar moralitas, etika dan nilai-nilai yang terbangun dalam kehidupan sosial.

Intinya, apa yang anda pikirkan tentang anda, dan apa bagaimana anda ingin diri anda terbentuk menjadi sesuatu, itu muncul dari fungsi ego.

Ego hidup dalam dimensi pikiran manusia. Bertumbuh dan berubah. Mengikuti informasi yang masuk dalam dimensi pikiran itu sendiri. Sehingga, saat pola pikir manusia berubah, maka egonya berubah.

Jadi, ego adalah pikiran itu sendiri. Dengan klasifikasi fungsi berupa dorongan membentuk nilai-nilai kepribadian. Aplikasinya berupa citra diri yang terlihat dari luar.

Mekanisme ego pada manusia

Karena ego adalah tentang pikiran, maka standar nilai-nilai yang diaplikasikan tentu pikiran sendiri. Makanya, terlihat lebih berfokus pada kepentingan diri sendiri. Kesan yang muncul, tidak peduli pada realitas lingkungan sekitar atau orang lain.

Pada titik ini, sebenarnya bukan tidak peduli pada realitas sekitar. Namun, ego membentuk kondisi psikologis pada manusia. Muncul standar pikiran pribadi.

Orang-orang yang memiliki banyak pengalaman hidup, wawasan luas, cenderung dinilai lebih bijaksana. Sementara, orang-orang yang berpikiran sempit, miskin pengalaman, cenderung dinilai egois. Padahal, bijaksana dan egois tersebut muncul dari ego itu sendiri. Sama-sama produk ego.. Sebuah kondisi psikologis.

Sadari saja bahwa; manusia menilai sesuatu melalui kacamatanya. Standar-standar yang ada dalam pikirannya.

Karena tidak memahami apa itu ego, maka seringkali manusia mengaitkan ego pada karakter/kepribadian yang kurang terpuji. Atau negatif!!..

Ego bukan kejahatan atau kebaikan

Dengan memahami apa itu ego? Fungsi dan mekanismenya, maka anda dapat mengambil makna atau esensi dari ego itu sendiri. Ego bukan sesuatu yang baik atau buruk. Melainkan sebagai fungsi dari pikiran. Terbentuk melalui proses kehidupan.

Pemahaman yang salah soal ego lah, justru yang buruk itu.

Ego sejatinya eksis sebagai sistem biologis pada manusia. Melalui ego pulalah, peradaban manusia terbentuk. Nilai-nilai moralitas, etika, dan sesuatu yang dianggap baik dan salah terbentuk oleh dorongan ego.

Manusia ingin bertumbuh menjadi baik, ingin menjadi bijaksana, ingin berada dijalan yang benar, adalah dorongan dari fungsi ego yang ada dalam dimensi pikiran. Melalui standar-standar dari kesimpulan pikiran sendiri. Dipengaruhi oleh informasi yang dikonsumsi.

Bahkan, orang-orang yang berpikir menghilangkan ego untuk menjadi manusia suci sesuai dengan idealismenya, adalah bentuk dari dorongan ego itu sendiri.

Manusia, tidak bisa benar-benar meninggalkan egonya, selagi masih berpikir. Karena ego bagian dari fungsi pikiran itu sendiri. Sama seperti hasrat, naluri, insting dan lainnya. Menjadi satu-kesatuan sistem yang menunjang eksistensi kehidupan manusia.

Bagaimana untuk menghilangkan ego?

Untuk menghilangkan ego, anda tidak perlu berspiritual. Tidak perlu melakukan ini dan itu. Anda cukup tidur hingga lelap tanpa mimpi. Jika bangun, tidur saja lagi.

Bermeditasi, menyepi, menghindar dari kehidupan sosial, masih bagian dari dorongan ego. Dalam membentuk diri dengan nilai-nilai dari asumsi yang dimunculkan oleh ide/gagasan pikiran. Tentang idealisme pribadi.

Nah, soal ini, sudah menjadi semacam pilihan pribadi. Tapi, peradaban tidak terbentuk melalui jalan ini. Manusia akan punah dengan konsep ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *