kesadaran

Apa itu kesadaran dalam spiritual?

100% manusia merasa bahwa dirinya sadar. Kecuali gila! Namun benarkah sudah benar-benar sadar? Dan lalu kenapa para meditator atau pelaku spiritual harus melakukan semacam pengkajian lagi jika agar sadar?

Disisi lain, kesadaran juga dianggap puncak dari sebuah proses spiritual. Lalu kesadaran apa yang dimaksud tersebut? Berikut analogi kesadaran digambarkan secara sederhana. Namun selebih dari itu, pengalaman berada di kondisi sadar lah yang bisa menjawab kondisi sebenarnya.

Kesadaran itu soal rasa! Dan itu hanya bisa dicicipi atau dialami sendiri.

Karena tidak ada bahasa verbal yang dapat menggambarkan rasa; manisnya buah manggis kecuali anda mencicipinya sendiri. Mencobanya sendiri.

Perumpamaan sadar, atau sadar penuh itu seperti seorang aktor sedang bermain peran. Misalnya seorang aktor berperan sebagai orang gila. Hal pertama yang dia sadari betul adalah dia bukanlah orang gila, walau pun berperilaku sebagai orang gila.

Kedua, dia mengamati betul setiap saat, terhadap apa yang dia lakukan, untuk apa diamati? Untuk memastikan, sudah sesuai tuntutan skenario atau belum, sudah pas atau belum. Kalau dia tidak menyadari, dan akhirnya tidak kontrol, memang dia jadi orang gila, tapi perilakunya tidak sesuai harapan dari skenario. Dia hanyut oleh peran yang dimainkannya.

Kalau ingin lebih menjiwai, cobalah teman-teman pura-pura atau akting, misalnya akting marah, sadarilah batin kita tahu dan mengamati apa yang sedang kita lakukan, itulah sadar, sadar penuh, hadir utuh di setiap moment.

Sadar dalam aktivitas keseharian atau dalam meditasi adalah menyadari dan mengamati gerak dari tubuh, pikiran, perasaan, dan ego kita. Singkatnya gerak lahir dan gerak batin kita amati. Seperti halnya kita mengamati ketika kita berakting.

Ketika aktivitas sadar kita sudah baik, ketika sedih, kita tahu yang sedih adalah perasaan kita, kitanya sendiri sebagai pengamat, baik-baik saja. Ketika kita galau berat, kita akan tahu dan melihat dengan mata batin kita, yang galau berat itu perasaan kita, kita sebagai pengamat, baik-baik saja. Kita akan mengamati, seperti ada jarak pemisah, antara kita dan perasaan, pikiran, tubuh dan ego kita, seakan terpisah. Bahasa NLPnya, diassosiasi, perasaan seperti terpisah.

Dengan rasa terpisah dari gerak tubuh, pikiran, perasaan dan ego kita, kita tidak akan melekat, tidak akan baper, dan lebih mudah mengendalikan pikiran, perasaan dan ego kita.

Tentu saja, perlu jam terbang untuk bisa menikmati hasil yang ideal.

Kalau aktivitas menyadari ini sudah baik, kita akan hanya jadi saksi, atas aktivitas lahir dan batin kita. Seperti langit yang menyaksikan hilir mudik awan putih dan awan hitam.

Wah kalau hanya menyaksikan, kita jadi pasive dong, cuma diam? Betul pasive, tapi yang pasive itu sang pengamat, tapi lahir batin kita beraktivitas normal dalam rangka merayakan hidup dengan penuh syukur.

Seperti kita sedang akting, kita yang asli kan mengamati akting kita, kita mengamati peran kita, apakah peran kita sudah baik atau belum.

Termasuk di dunia ini, kita bermain peran, mau berperan seperti apa? Mau jadi petani, pedagang, pengusaha, trainer, ahli spiritual. Bebas saja kita berperan. Peran ini dilakukan oleh, tubuh lahir dan batin kita, kita mah sebagai pengamat, tetap jadi pengamat, sebab bagi pengamat, semua sudah indah, tak perlu apa-apa lagi.

Jadi, kesadaran ini lah yang ingin digambarkan para pelaku spiritual tersebut. Termasuk dengan berbagai analogi, seperti Sejatine Ingsun dalam Sastra Jendra Hayudiningrat Pangruwating Diyu

1 komentar untuk “Apa itu kesadaran dalam spiritual?”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *