Dimensi pikiran

Dimensi Pikiran – Berpikir, Merasa Dan Tumbuh Sesuai Konsep

Dalam menjalani kehidupan, manusia berada dalam dimensi pikirannya. Dimensi pikiran terbentuk melalui serangkaian konsep dari kreatifitas pikiran itu sendiri. Beberapa yang bisa keluar dari jebakan, bisa tumbuh sebagai pembuat konsep, selebihnya akan hidup sebagai pelaku konsep.

Sepanjang sejarah peradaban manusia, ada begitu banyak konsep yang dianggap sebuah kebenaran. Beberapa disebut sebagai kodrat atau ketetapan yang bersumber dari keilahian.  Pada masanya, konsep-konsep tersebut berlaku mutlak. Bertahan lama hingga berabad-abad. Seperti diantaranya RAS, gender, kasta, kelas, manusia pilihan dan lain sebagainya.

Saya akan mengangkat salah satu fenomena tentang RAS. Ras merupakan sebuah sistem yang mengkategorikan manusia dalam populasi atau kelompok berdasarkan ciri bentuk jasmani, asal-usul geografis, atau kesukuan.  Di awal abad ke-20, istilah ini sering digunakan dalam arti biologis untuk menunjuk populasi manusia yang beraneka ragam dari segi genetik dengan anggota yang memiliki fenotipe (tampang luar) yang sama.

Boleh jadi kelompok manusia dari dulu selalu menentukan diri sendiri sebagai berbeda dari kelompok lain. Walau, perbedaan tersebut belum tentu selalu dipandang sebagai sesuatu yang alami, tak terubahkan dan menyeluruh.

Namun, sistem Ras merupakan salah satu cikal-bakal yang mendorong munculnya perniagaan budak di Atlantik dan diskriminasi. Kondisi ini kemudian makin mendorong pengelompokan manusia demi membenarkan penundukan budak asal Afrika. Pada bagian lain terjadinya penjajahan.

Dengan mengacu kepada sumber Klasik mereka dan hubungan antar bangsa Eropa sendiri — misalnya, permusuhan bebuyutan antara Inggris dan Prancis sangat berpengaruh atas pemikiran Eropa awal mengenai perbedaan antar bangsa — orang Eropa mulai mengotakkan mereka sendiri dan bangsa lain dalam kelompok berdasarkan tampang jasmani, dan melekatkan pada individu dalam kelompok tersebut, perilaku dan kemampuan yang dianggap mengakar dalam-dalam.

Buahnya, berkembanglah sejumlah kepercayaan yang mengaitkan perbedaan jasmani antar kelompok yang terwarisi, dengan sifat intellektual, perilaku dan moral yang juga dikira terwarisi.

Belum begitu lama, sebuah masa dimana manusia pernah dibedakan berdasarkan warna kulit. Stigma negatif pernah mengakar dan melekat kuat pada mereka yang berkulit hitam. Seperti soal sifat intelektual, prilaku dan moral yang buruk. Stigma tersebut semakin menguat dengan banyaknya terjadi kasus-kasus kekerasan dan hal negatif yang dilakukan oleh orang-orang kulit hitam sendiri. Pada masanya, tidak ada hal baik yang bisa diharapkan melalui orang-orang kulit hitam.

Memang, era perbudakan lebih dahulu runtuh, apalagi sejak kosenp HAM (Hak Azazi manusia) muncul. Namun, jurang pemisah berupa perbedaan warna kulit masih bertahan lebih lama. Hal itu teraplikasi dalam kehidupan sosial melalui bentuk kesempatan kerja, pendidikan, layanan kesehatan dan lainnya.

Apa yang ingin saya sampaikan dari fenomena Ras ini? Yang jelas bukan untuk membangkitkan sentimen tertentu. Bukan pula untuk membuka luka lama tentang berbagai diskriminasi dan perlakuan buruk dari manusia pada manusia. Namun tentang sebuah konsep yang pernah berlaku dan pernah dianggap sebagai sebuah kebenaran mutlak.

Soal perbudakan misalnya, tidak ada sesuatu yang benar-benar menetapkan status manusia sehingga layak dijadikan budak, selain pemikiran manusia itu sendiri. Namun, dalam dimensi pikiran manusia pada era perbudakan, kondisi ini bisa dianggap sebagai kodrat. Sebagai sesuatu yang telah ditetapkan memang begitu. Bahkan oleh mereka yang diperbudak. Dianggap sangat manusiawi!

Ya, para budak tumbuh dan berpikir sebagai budak. Mereka berpikir untuk dan bagaimana menjadi budak yang baik.

Saat status sosial dibedakan melalui warna kulit juga pernah dianggap sebagai kodrat. Stigma negatif tentang orang-orang kulit hitam hidup juga seolah benar. Bahkan, mereka yang berkulit hitam benar-benar tumbuh sebagaimana stigma yang telah ditetapkan. Tidak semua, namun mayoritas orang-orang berkulit hitam pada masa itu benar-benar buruk. Baik secara intelektual, moralitas, etika, kemalasan dan lainnya. Stigma negatif tersebut membentuk dalam dimensi pikiran manusia berkulit hitam.

Pertanyaannya, apakah itu benar adanya? Jawabannya, sangat relatif dan tergantung dimensi pikiran manusia itu sendiri. Dimensi pikiran tersebut terbentuk berdasarkan konsep yang dibangun atas kreatifitas pikiran. Yang jelas bukan ketetapan dari sesuatu yang membuatnya harus begitu!

Saat era perbudakan runtuh, dimensi pikiran manusia pun berubah. Bahwa; tidak ada sesuatu yang mengharuskan manusia menjadi budak. Tidak ada manusia yang ingin diperbudak secara sadar. Budak adalah perbuatan tidak manusiawi yang tidak bisa diterima oleh setiap insan manusia. Dan tidak pula ada yang berani berpikir untuk memperbudak siapapun, kecuali ingin dianggap sebagai manusia jahat yang akan ditentang dunia. Konsep HAM telah mengubah dimensi pikiran manusia.

Ya, HAM juga sebuah konsep! Hadir atas kreatifitas pikiran manusia. Tentang nilai-nilai keadilan yang dianggap memanusiakan manusia.  Tidak juga ada ketetapan dari sesuatu, selain sebuah konsep yang dibuat manusia dalam membangun peradaban manusia.

Demikian juga soal warna kulit. Saat sentimen warna kulit runtuh, maka berbagai konsep yang menyertainya juga runtuh. Sejak saat itu, maka berbagai stigma negatif tentang manusia berkulit hitam pun perlahan memudar. Anda bisa lihat saat ini, berbagai potensi yang memungkinkan bisa dilakukan manusia kulit putih, mampu juga dilakukan manusia berkulit hitam. Berbagai prestasi yang sebelumnya hanya milik kulit putih, sekarang bisa dicapai kulit hitam.

Dan yang jelas, ada begitu banyak bukti yang memperlihatkan bahwa; kebaikan dan keburukan bisa muncul dari mana saja, tanpa membedakan warna kulit.

Konsep emansipasi wanita juga telah mengikis perbedaan manusia dari sisi gender. Gender adalah serangkaian karakteristik yang terikat kepada dan membedakan maskulinitas dan feminimnitas. Karakeristik tersebut dapat mencakup jenis kelamin (laki-laki, perempuan, atau interseks), hal yang ditentukan berdasarkan jenis kelamin (struktur sosial seperti peran gender), atau identitas gender.

Untuk dalam beberapa sistem keyakinan di era modern, saat ini, gender masih dianggap sebagai kodrati manusia. Kodrat dimana menentukan peran dalam struktur sosial, tugas-tugas yang dikerjakan, ikatan yang membatasi ruang gerak dan lainnya.

Dalam konsep gender, peran maskulin sering dikonotasikan untuk melakukan tugas-tugas berat dan diluar ruangan. Dan feminim melakukan hal-hal ringan dan berhubungan dengan dalam rumah, seperti mengasuh anak, mencuci dan memasak.

Pada peradaban primitif, maskulin berburu dan feminim mengolah hasil buruan untuk dikonsumsi. Dalam berbagai sistem keyakinan, ada serangkaian aturan yang dianggap layak atau tidak layak dikerjakan oleh masing-masing gender. Baik dilakukan secara tertulis atau tidak, kecenderungan pembagian tugas terkesan cukup mengikat.

Dizaman sekarang, kecenderungan pembagian tugas berdasarkan gender masih sering terjadi. Seperti diantaranya, memasak atau tugas didapur lebih ditekankan pada sosok feminim. Lelaki dianggap tidak layak untuk melakukannya.

Klasifikasi gender berdasarkan jenis kelamin, mungkin dipicu secara alamiah bahwa perempuan memiliki sistem reproduksi yang berfungsi untuk memungkinkan sebuah kehamilan dan melahirkan anak. Namun bisa dikatakan tidak lebih dari itu. Apa yang memungkinkan dilakukan oleh lelaki juga mampu dilakukan oleh perempuan.

Serangkaian konsep dalam menentukan klasifikasi peran, bukan sebuah kemutlakan. Namun, akan menjadi semacam kebenaran saat diyakini atau diterima oleh individu manusia itu sendiri.

Jika konsep bahwa perempuan lebih lemah dari laki-laki itu diterima, maka itu akan membentuk dalam dimensi pikiran manusia. Lalu, sosok perempuan akan bertumbuh menjadi insan yang memang benar-benar lemah, sehingga secara psikologis membutuhkan semacam perlindungan dari lelaki. Walaupun pada kenyataannya, ada begitu banyak sosok perempuan dapat bertumbuh menjadi lebih kuat dari lelaki.

Anda para lelaki, jika tidak terlatih, jangan coba-coba untuk adu fisik dengan perempuan yang terlatih olah raga beladiri. Sekali pukul, bisa jadi akan terjatuh seketika. Perkembangan jaman juga sudah membuktikan, ada begitu banyak tugas-tugas yang selama ini hanya dilakukan oleh para lelaki dapat dengan baik dilakukan oleh perempuan. Lihat saja diluar sana, baik dalam bidang hukum, politik, atau berbagai keahlian lainya.

Tapi, pada beberapa perempuan yang masih menganut konsep gender perempuan statusnya dibawah lelaki. Tentang bahwa wanita adalah sosok ibu rumah tangga, berada dalam perlindungan lelaki, lemah, maka demikian juga yang terjadi. Dimensi pikiran seperti ini akan benar-benar membentuk perempuan, baik secara fisik maupun psikologis sesuai dengan konsep yang dianut.

Tidak hanya itu, kendati perbedaan klasifikasi gender sudah semakin menipis diperadaban modern, namun masih ada begitu banyak yang tetap mempertahankannya menjadi semacam kemutlakan. Bahkan, dimensi pikiran yang berada dalam konsep perempuan dilemahkan malah muncul dari perempuan-perempuan itu sendiri. Mereka berpikir, merasa, bertumbuh seperti konsep dalam dimensi pikirannya.

Ini bukan tentang benar dan salah, tapi tentang konsep yang membentuk dimensi berpikir manusia. Manusia memang bertumbuh sesuai dengan dimensi pikirannya masing-masing.

Anda mungkin bisa tidak mempercayai bahwa manusia diciptakan dari adonan tanah. Satu golongan dibuat dari tanah lempung hitam dari tanah comberan, satunya lagi dari tanah lempung kuning liat yang bagus. Lalu hasilnya maka; ada manusia yang dikategorikan kelas atas dan yang lainnya lagi kelas rendah.

Akan tetapi, dalam sebuah sistem keyakinan, konsep tentang pembagian kelas dalam kehidupan manusia itu ada. Kelas-kelas tersebut sangat menentukan status sosial dan bagaimana manusia menjalani hidup. Konsep kelas, bahkan dianggap menjadi sistem yang menjadikan peradaban manusia berjalan baik. Dan, mereka yang terikat dalam konsep kelas akan berpikir, merasa dan bertumbuh sesuai dengan dimensi pikirannya masing-masing. Sesuai dengan konsep yang diterima.

Sementara, manusia yang tidak terikat konsep kelas, kehidupannya juga akan tetap dapat berjalan. Dalam dimensi pikirannya, tidak ada pemikiran tentang perbedaan status sosial berdasarkan kelas. Tidak ada manusia yang diciptakan dari tanah kualitas rendah atau tinggi. Bersambung…

__// Tulisan ini bagian dari buku Neurolism

1 thought on “Dimensi Pikiran – Berpikir, Merasa Dan Tumbuh Sesuai Konsep”

  1. Pingback: Keyakinan Bukan Kebenaran » NEUROLISM

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *