Kasus Santet Bro Adin, Delusi Menginduksi Fisik

Kasus Santet Bro Adin, Delusi Menginduksi Fisik

Dalam proses pejalanan spiritual (hidup), saya sangat terkagum-kagum dengan sistem syaraf memunculkan sensasi bahkan terhadap tubuh fisik. Tentang bagaimana dimensi pikiran membentuk realitas.

Saat anda percaya bahwa anda sakit, sistem syaraf anda akan memunculkan sensasi rasa sakit. Tubuh fisik anda bisa jadi tidak mempunyai masalah sama sekali. Artinya, tidak ada hal-hal teknis yang bisa memberi masalah yang menimbulkan rasa sakit. Namun, saat pikiran anda yakin ada masalah dalam diri anda, maka sistem syaraf anda tidak bisa membedakan bahwa itu sebuah realitas atau hanya terjadi dalam dimensi pikiran anda. Sistem syaraf anda sangat patuh dalam memberi sensasi rasa. Bahkan dalam kondisi ekstreem akan mengimplementasikannya dalam bentuk fisik.

Oke, saya akan memberikan sebuah gambaran bahwa;  kondisi hipnosis merupakan fenomen sistem syaraf dalam memunculkan sensasi.

Dalam kondisi trance, manusia yang menjadi obyek hipnosis dapat diinduksi berbagai hal. Termasuk sensasi rasa. Saat pikiran disugesti bahwa pada bagian tubuhnya terbakar, maka sistem syaraf akan menangkap sebuah informasi dan memunculkan sensasi rasa panas. Pada trance yang mendalam, bahkan rasa panas tersebut akan benar-benar memunculkan kondisi terbakar pada tubuh fisik. Membentuk realitas terbakar secara fisik!

Ya, hipnosis adalah salah satu fenomena sistem syaraf dalam memunculkan sensasi. Baik dalam bentuk rasa maupun kondisi fisik. Hipnosis adalah bagian dari dasar-dasar sistem keyakinan berlaku dalam kehidupan manusia. Baik disadari atau tidak.

Hipnosis bekerja tidak melulu melalui sistem menidurkan manusia. Hipnosis bekerja/masuk melalui pikiran manusia. Saat pikiran percaya/yakin, maka hukum-hukum hipnosis telah berlaku pada diri manusia.

Artinya, hukum-hukum hipnosis dapat terjadi kapan pun dan dimanapun. Tidak pula melulu melalui bahasa verbal, hipnosis juga bisa melalui bahasa isyarat yang memungkinkan ditangkap/difahami oleh pikiran. Situasi dan kondisi yang ditangkap oleh pikiran sebagai informasi juga memungkinkan membuat manusia tersugesti/terhipnotis.

Asumsi-asumsi anda dalam memaknai situasi dan kondisi pun, berpotensi menghipnotis. Artinya, sebuah situasi dan kondisi yang dimaknai salah, berpotensi memunculkan sugesti yang salah dalam pikiran. Dan sistem syaraf akan memberi sensasi sesuai dengan asumsi yang salah tersebut.

Bisa saja, situasi dan kondisi adalah hal yang positif. Namun, ketika pikiran anda memaknai sebagai sesuatu yang negatif, maka sistem syaraf anda akan memunculkan sensasi negatif.

Pada dasarnya, sebagian besar manusia hidup, tidak benar-benar dalam dimensi realitas. Melainkan hidup dalam dimensi asumsi pikiran. Masalahnya, manusia sering terjebak dalam hal ini. Dimana, setiap asumsi sering dipercayai sebagai sebuah kepastian. Sebagai sebuah kebenaran. Dan kemudian, sistem syaraf secara otomatis memunculkan sensasi sesuai dengan informasi yang ditangkap pikiran. Tidak perduli apakah itu realitas atau hanya sekedar asumsi belaka.

Anda yang mendapat informasi bohong tentang hal-hal yang menyakitkan, dan anda percaya, maka sistem syaraf anda akan memunculkan sensasi rasa sakit.  Anda yang mendapati sebuah realitas yang sejatinya membuat anda sakit, namun anda berasumsi positif maka sistem syaraf anda tidak akan memunculkan sensasi rasa sakit.

Sistem syaraf anda tidak bisa membedakan mana yang realitas dan mana yang asumsi. Yang penting, ketika pikiran anda percaya; maka sistem syaraf anda akan membaca bahwa itu adalah kebenaran. Dan sensasinya akan menjadi nyata dalam bentuk fisik dan atau rasa.

Ya, berbagai sensasi adalah kondisi otak. Kondisi tersebut dapat terpicu melalui faktor eksternal maupun internal. Faktor eksternal bisa melalui situasi kondisi. Baik secara fisik maupun informasi yang ditangkap oleh pikiran. Secara internal dapat berupa asumsi pikiran yang terbentuk melalui, halusinasi, imaginasi, fantasi dan lain sebagainya. Kondisi yang disebut sensasi tersebut, terjadi dalam sistem syaraf yang oleh banyak keilmuan digambarkan sebagai fenomena kelistrikan dan kimiawi.  Intinya, otak terinduksi informasi yang diproduksi oleh pikiran. Saat pikiran bekerja menangkap suatu infomrasi maka secara otomatis otak akan mengaplikasikannya dalam bentuk sensasi.

Pada tulisan sebelumnya, saya telah memberi gambaran tentang halusinasi. Sebuah fenomena pikiran juga. Dimana mampu memunculkan suatu gambaran visual atau dalam bentuk kesimpulan dalam pikiran. Manusia yang hidup dalam sistem keyakinan santet, berpotensi mengalami santet. Atau manusia yang pernah mendengar fenomena santet berpotensi mengalami fenomena tersebut. Pikiran manusia yang mengenal santet, berpotensi memproduksi halusinasi santet.

Artinya, anda bisa jadi tidak benar-benar di santet. Atau saya dapat menyebutkan bahwa; santet itu sendiri tidak ada. Namun, saat anda berhalusinasi disantet, dan anda percaya, maka sistem syaraf anda akan menangkap bahwa informasi tersebut sebagai benar. Lalu sistem kelistrikan dan kimiawi dalam otak anda akan memunculkan sensasi. Ini membuat anda, terjebak dalam delusi. Saat dalam kondisi ini, santet akan mewujud dalam realitas. Artinya, baik sensasi dalam bentuk rasa maupun secara fisik akan benar-benar terjadi dalam kehidupan anda.

Ketika saya menyebut bahwa santet itu sendiri tidak ada, bukan sebuah pernyataan tanpa alasan. Sepanjang perjalanan sebagai praktisi spiritual, sedemikian banyak kasus-kasus santet yang ditangani tidak lebih akibat produk pikiran. Baik dalam bentuk halusinasi maupun asumsi yang diyakini sebagai kepastian. Bisa jadi bagi orang-orang yang menjadi korban santet menganggap itu sebuah realitas. Tapi realitas dimaksud tidak lebih sensasi yang dimunculkan oleh sistem syaraf yang mengaplikasikan informasi yang diproduksi pikiran melalui asumsi atau halusinasi. Artinya, realitas yang dimaksud adalah buah dari pikiran itu sendiri. Akibat dari pikiran yang memunculkan sensasi dalam bentuk rasa maupun fisik yang terinduksi.

Dalam sebuah training pemberdayaan diri yang bertajuk spiritual pada 15 – 17 April 2017 di kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat, lalu, saya merupakan salah satu trainer atau pemateri. Para peserta yang berjumlah 20-an orang, terdiri dari berbagai latar belakang dengan motivasi masing-masing. Beberapa bertujuan untuk menggali potensi diri serta berkembang menjadi pribadi lebih baik. Beberapa diantaranya, ingin menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupannya. Dan salah satu diantaranya, ingin menyembuhkan santet yang telah bersemayam dalam kehidupannya sejak lama. Santet yang telah merenggut kesehatan baik secara mental, maupun fisik. Santet yang menghabiskan sebagian besar harta untuk membiaya pengobatan. Santet yang telah membawanya bolak-balik ke UGD (Unit Gawat Darurat) Rumah Sakit. Santet yang telah membuat depresi berkepanjangan.

Sebut saja namanya Bro Adin. Saya menambah panggilan bro, karena dalam banyak percakapan beliau sering menggunakan kata ‘bro’. Bro sendiri merupakan singkatan dari kata dalam bahasa Inggris ‘brother’. Dalam bahasa Indonesia artinya saudara. Jadi kepada siapa pun untuk menjalin keakraban dalam training dia selalu menyapa bro.

Bro Adin salah satu peserta yang termotivasi ikut dalam training karena ingin menyembuhkan santet yang terjadi pada dirinya. Menurut dia, dirinya adalah korban santet yang dilakukan seseorang. Dan ini telah terjadi sejak lama. Kesimpulan bahwa dirinya disantet juga bukan tanpa alasan. Ada sejarah atau kronologis. Dan tidak hanya itu, realitas yang dirasakannya pun membuktikan bahwa benar dirinya adalah korban santet.

Bro Adin telah beberapa kali muntah darah dan terpaksa dibawa kerumah sakit untuk mendapat pertolongan secara medis. Dan itu cukup membantu, dirinya merasa lebih baik. Namun, hasil diagnosa tidak memberi rincian yang berarti. Dan bukan hanya itu saja, kesembuhan tidak pernah total. Artinya, setiap saat dan setiap waktu berpotensi terjadi lagi dan lagi.

Ada keunikan tersendiri dalam penyakit tersebut. Dan itu membuat kesimpulan kondisi tersebut sebagai santet semakin kuat. Bahwa, Bro Adin tidak bisa menikmati sesuatu yang dia sukai. Artinya, saat mengkonsumsi sesuatu yang disukai maka secara otomatis akan muntah darah. Saat mengkonsumsi sayur asem misalnya. Karena sayur tersebut menjadi kegemarannya, maka secara otomatis akan muntah darah. Bahkan, saat mendengar musik-musik yang disukai potensi muntah darah bisa saja terjadi. Dan itu terjadi berulang kali.

Bagaimana santet tersebut bermula, menurut Bro Adin awalnya dirinya terlibat konflik pada seseorang. Lalu lawan konflik tersebut mengancam akan melakukan sesuatu pada dirinya. Ancaman tersebut juga disampaikan melalui orang lain dan pesan singkat handphone.

Lalu sejak saat itu, fenomena muntah darah dan tubuh fisiknya semakin lemah. Berbagai upaya baik secara spiritual maupun medis tidak membuahkan hasil. Artinya, setiap kali mengkonsumsi sesuatu yang disukai maka secara otomatis Bro Adin akan muntah darah kembali.

Sebagai peserta Training, Bro Adin ditemani istrinya. Dan dalam hal ini, juga telah siap dengan segala kemungkinan. Karena, selain mengikuti training juga akan melakukan semacam sesi pembuktian bahwa dirinya terlepas dari santet dengan cara mengkonsumsi hal-hal yang disukai. Atau dalam bahasa sederhananya, akan melanggar segala pantangan yang dapat memicu dirinya muntah darah.

Bagi Bro Adin, ini merupakan momentum penting dalam kehidupannya. Momentum yang bisa saja menjerumuskannya kembali ke rumah sakit karena muntah darah, atau membawa dirinya kembali dalam kehidupan yang normal. Sebagai manusia sehat yang dapat mengkonsumsi hal-hal yang disukai.

Adalah sebuah penderitaan yang luar biasa. Berada dalam dilema panjang dan penuh horor. Dimana menjalani hidup tanpa bisa mengkonsumsi yang disukai. Penderitaan baik secara fisik maupun mental.

Dalam training, tidak ada hal-hal istimewa yang dilakukan. Berbagai tindakan baik melalui komunikasi verbal, sikap, isyarat, tidak lebih hanya menggeser paradigma berpikir yang terjebak dalam sistem keyakinan santet. Sistem keyakinan yang memunculkan halusinasi yang menghantarkannya dalam delusi. Saat paradima pikiran berubah, maka aplikasi dalam pikirannya berganti. Lalu kesembuhan pun terjadi seketika. Semudah itu? Ya, memang semudah itu. Yang sulit adalah membongkar sistem keyakinan dan membentuk sistem keyakinan baru. Dan yang paling sulit lagi adalah membuat pikiran berpikir bahwa itu tidak sulit!..

Dalam kasus Bro Adin, sebenarnya tidak perduli apakah benar dia disantet atau tidak disantet. Namun masalah utamanya, dalam pikiran nya ada sebuah aplikasi berupa sistem keyakinan dirinya di santet. Keyakinan yang ada dalam pikiran Bro Adin bahwa dirinya disantet tersebut lah yang memicu sistem syarafnya memunculkan sensasi santet tersebut.

Bisa jadi memang ada semacam upaya santet yang dilakukan terhadap dirinya. Namun santet sendiri, adalah aplikasi yang terbentuk melalui sistem keyakinan. Yang mainnya dalam ranah pikiran. Upaya-upaya yang dilakukan, pada dasarnya tidak akan bekerja jika Bro Adin tidak berpikir bahwa dirinya di santet. Pembentukan opini melalui ancaman adalah bagian dari pemicu. Dan asumsinya adalah motor penggeraknya.

Atau bisa saja ancaman tersebut hanya sekedar ancaman, namun tidak ada tindakan nyata. Namun Bro Adin terlanjur percaya terhadap informasi tersebut. Sehingga sistem syarafnya terpicu memunculkan sensasi.

Atau ada sebuah kondisi kebetulan, dimana kondisi fisik Bro Adin tidak fit lalu menimbulkan penyakit ringan, dimana sebenarnya dengan sedikit istirahat bisa menyembuhkan. Namun karena dalam berpikir ada santet, pikiran nya berasumsi itu bagian dari santet. Sehingga, sistem syarafnya memunculkan sensasi yang melipat gandakan rasa sakit yang diderita.

Para pelaku santet sendiri pada dasarnya, termasuk dalam tataran sistem keyakinan. Artinya, meyakini tindakan-tindakan yang dilakukan melalui semacam ritual mampu memunculkan fenomena santet. Kondisi keyakinan tersebut membentuk sebuah rasa percaya diri. Jadi saat berkomunikasi dengan Bro Adin, intonasi nada bicara, sikap, dan ungkapan yang dalam kondisi yakin mampu mempengaruhi pikiran Bro Adin.

Saya akan memberi sebuah gambaran bagaimana pernyataan dengan sikap yang penuh keyakinan mampu menginduksi pikiran lawan bicara atau target menjadi ikut dalam dimensi yakin.

Anda bisa saja memahami script-script tentang langkah-langkah menghipnosis. Atau hafal diluar kepala kata-kata verbal yang biasa digunakan oleh pakar hipnosis. Atau menggunakan alat-alat sama yang biasa dipakai oleh praktisi hipnosis. Tapi, hasilnya akan jauh berbeda dengan mereka yang telah biasa atau terlatih menghipnosis.

Ada sebuah kondisi yang ikut mempengaruhi. Kondisi tersebut adalah sebuah rasa percaya diri (confident). Saat anda yang belum terbiasa, maka akan ada semacam keraguan. Sebuah kondisi tidak percaya diri. Anda bisa saja mengucapkan bahasa verbal yang sama, tehnik, atau alat dan tanpa melakukan sebuah kesalahan sedikit pun. Tapi keraguan yang ada dalam pikiran anda akan mempengaruhi intonasi nada bicara, sikap, dan tindakan yang terbaca oleh publik melalui intuisi. Dan ini akan mempengaruhi efek atau kualitas induksi.

Atau secara sederhananya, sebuah lagu tidak sepenuhnya ditentukan oleh lirik dan arransement musik semata. Tetapi sangat dipengaruhi oleh siapa artis/penyanyinya. Ada sebuah kondisi yang ikut mempengaruhi efek terhadap apa yang ingin disampaikan.

Serangkaian tehnik dan berbagai macam alat adalah syariat, namun yang menentukan adalah sebuah kondisi.

Bro Adin bisa saja menangkap sebuah informasi bohong yang disampaikan oleh seseorang yang dalam kondisi yakin karena tidak mengetahui bahwa informasi tersebut bohong. Jadi pikiran Bro Adin bukan menangkap informasi tersebut benar atau salah, melainkan terinduksi oleh sebuah kondisi yang terbaca sangat meyakinkan.

Apa yang membuat berbagai sistem keyakinan itu benar-benar mampu meyakinkan manusia? Ya, karena si penyampai yang juga benar-benar yakin dengan apa yang disampaikan. Ini bukan soal apa yang disampaikan benar atau salah.

Manusia yang dalam kondisi delusi terhadap apa yang dilihat, berpotensi menginduksi pikiran si pendengar. Anda yang bercerita tentang pengalaman melihat hantu, karena anda pernah berhalusinasi dan meyakini itu sebuah kebenaran, maka sangat berpotensi menginduksi pikiran pendengar.

Ini juga yang menjadi alasan ketika salah satu dalam rombongan berhalusinasi melihat hantu, maka sangat berpotensi pikiran-pikiran lain akan terinduksi melihat hal yang sama. Atau setidaknya, merasakan sensasi rasa yang sama. Auto telepati! Sebuah kondisi pikiran yang secara otomatis ditangkap oleh pikiran lain.

Anda yang ragu menyampaikan sesuatu, akan diterima dalam bentuk keraguan oleh pendengar. Anda yang menyampaikan sesuatu dengan penuh percaya diri, maka secara otomatis akan ditangkap oleh pendengar sebagai sebuah kepastian atau keyakinan.

Ini juga yang memungkinkan anda bisa menyukai sebuah lagu yang bahkan anda tidak mengerti artinya. Anda seolah bisa merasakan apa yang ingin disampaikan oleh penyanyinya. Ini juga yang menjadi rahasia, lagu ‘Someone like you’ yang dilantunkan oleh Adele bisa disukai mayoritas penduduk dunia. Bahkan oleh mereka yang sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris. Ada sebuah kondisi yang tersampaikan melalui intonasi nada yang mampu ditangkap pikiran melalui indera pendengar. Ada sebuah kondisi yang mampu memicu sistem syaraf manusia untuk memunculkan sebuah sensasi.

Bro Adin terinduksi! Pikirannya menangkap sebuah informasi yang kemudian dianggap sebagai sebuah kebenaran. Jadi, kebenaran yang ditangkap pikiran Bro Adin bukan soal benar atau tidak tindakan santet tersebut. Tapi kondisi informasi yang mengandung sensasi kebenaran. Ada sensasi kebenaran yang terbentuk melalui kondisi yakin dari si penyampai informasi.

Dan kondisi tersebut, diimplementasikan oleh sistem syaraf Bro Adin menjadi sensasi. Sensasi yang kemudian menjadi realitas dalam dimensi pikiran. Rasa sakit adalah realitas. Muntah darah adalah realitas. Santet adalah fenomena realitas dalam dimensi pikiran Bro Adin.

Saya mempunyai seorang teman dimedia sosial. Nama akunnya adalah Mametto. Dia seorang indifidu yang bergerak sebagai aktivis memerangi sistem keyakinan yang menurutnya banyak merugikan masyarakat awam. Termasuk salah satunya fenomena santet. Tentang; bahwa santet tersebut adalah sistem keyakinan. Bukan benar-benar ada. Tentang bahwa; santet hanya berlaku bagi orang-orang yang meyakini saja.

Untuk memperkuat pendapatnya tersebut, maka secara terbuka melalui akun media sosial yang diikuti oleh ribuan follower, Mametto menantang siapa pun untuk menyantet dirinya. Dia mempertaruhkan nyawa, keselamatan, dan bahkan menawarkan hadiah. Namun kenyataannya, tidak ada yang mampu melakukan santet dimaksud.

Mametto dalam hal ini bukan sosok yang konyol atau sok gagah-gagahan. Bukan berarti pula bentuk dari sebuah kesombongan. Melain sebuah upaya untuk membongkar dan atau membuka lapisan kesadaran manusia tentang cara kerja sistem keyakinan. Ada begitu banyak sosok-sosok yang memiliki pemikiran seperti Mametto, juga melakukan langkah sama. Dan mereka tetap baik-baik saja.

Dalam sejarah kejahatan santet, selain masuk melalui pola sistem keyakinan, langkah lain yakni racun! Anda yang berkesimpulan santet sering kali terlambat mengatasinya secara medis atau memberi obat secara tepat.

Dalam kasus Bro Adin, santet yang menggerogoti hidupnya adalah aplikasi yang tertanam dalam pikirannya. Sebuah sistem keyakinan yang memunculkan sensasi dalam bentuk realitas.

Entah bagaimana, Bro Adin sendiri tidak menyadari tentang munculnya sebuah asumsi bahwa santet tersebut kambuh saat dia mengkonsumsi sesuatu yang disukai. Muncul begitu saja dalam pikiran. Sebuah kebetulan yang terpikir dan itu diyakini kembali sebagai kebenaran. Lalu mewujud dalam realitas dimensi pikirannya.

Dalam dunia hipnosis, sesuatu yang mampu memicu pengulangan sebuah kondisi disebut sebagai anchor. Dalam bahasa Indonesia disebut jangkar. Atau bisa kita sebut kata kunci. Biasanya, anchor tersebut ditanam dalam pikiran manusia saat dalam kondisi hipnosis.

Anchor akan aktif bila kita mengaktifkan sebuah kunci/kode yang sudah di tanamkan. Contoh sederhana sejak kecil kita sudah di beri sebuah nama. Nah pada saat nama kita (kunci/kode) disebut/diaktifkan maka kita akan menoleh, menjawab atau mungkin mendatangi orang yang memanggil.

Jadi pengertian Anchor adalah jika kita melakukan A, maka dia akan melakukan B. Contoh lagi, “Ketika saya jentikkan jari seperti ini, maka Anda akan berdiri”. Nah jika Anda melakukannya maka orang tersebut akan mengikuti perintah Anda, karena sebelumnya sudah tertanam Anchor pada orang tersebut.

Anchor bisa terbentuk secara alami ataupun secara di sengaja. Untuk contoh Anchor alami ada pada cerita di atas tadi, nah untuk yang di sengaja banyak sekali saya ambil contoh ketika Anda di latih PBB (Peraturan Baris Berbaris). Jika Anda di perintah siap Grak, maka Anda secara reflek akan menegapkan tubuh Anda, meluruskan pandangan Anda dan sedikit meng kakukan badan Anda. Nah itu lah contoh Anchor dalam kehidupan sehari hari. Jadi Setiap waktu sebenarnya Anda mengalami Anchor.

Dalam berbagai sistem keyakinan, ada begitu banyak anchor yang tertanam dalam pikiran manusia. Bagi seorang muslim, suara azan merupakan sebuah anchor yang bisa memunculkan sensasi lantunan kata yang penuh makna. Namun anchor tersebut tidak berlaku bagi sistem keyakinan lain. Makanya, orang-orang diluar sistem keyakinan muslim bisa jadi mendapat sensasi berisik dari suara azan.

Mantra Gayatri akan memunculkan sensasi rasa damai, penuh khimad bagi sistem keyakinan beragama Hindu. Namun hal tersebut tidak akan berlaku bagi umat Kristiani. Dan ada begitu banyak anchor-anchor baik disadari atau tidak dalam kehidupan manusia. Termasuk tentang sensasi yang ditimbulkan cuaca atau lainnya.

Anchoring dapat dikatakan terjadinya stimulus/tombol/trigger tertentu dalam pikiran manusia, untuk memicu timbulnya sensasi tertentu.

Saat pikiran manusia terbuka menerima informasi, dan meyakininya sebagai kebenaran maka secara otomatis sudah masuk kondisi hipnosis.

Ketika dalam kondisi muntah darah, pikiran Bro Adin berasumsi. Asumsi tentang pemicu muntah darah tersebut adalah mengkonsumsi sesuatu yang disukainya. Dan celakanya, asumsi tersebut kemudian diyakini sebagai kebenaran. Lalu terekam dalam pikiran membentuk aplikasi berupa anchor. Sehingga, saat anchor tersebut terpicu maka sistem syarafnya memunculkan kondisi kembali. Kondisi muntah darah!!..

Bersambung….

__// Tulisan ini bagian dari buku Neurolism

1 thought on “Kasus Santet Bro Adin, Delusi Menginduksi Fisik”

  1. Pingback: Halusinasi, jenis, penyebab, dan fenomenanya » NEUROLISM

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *