Tentang Apa Itu Realitas Dalam Kehidupan Manusia

Tentang Apa Itu Realitas Dalam Kehidupan Manusia

Ada tiga kategori realitas dalam kehidupan manusia. Dan atau bisa pula dikatakan sesuatu yang dianggap real atau nyata. Memahami ini, penting bagi anda yang ingin berspiritual. Yang ingin belajar tentang kesadaran!

Atau tetaplah bertahan dalam konsep system keyakinan. Anda tetap bisa menikmati perjalanan hidup anda. Dan tentunya tetap baik-baik saja. Sebagai umat!

Sebagian besar orang, kesulitan memahami ide tentang “tatanan yang diimaginasikan” karena mereka berasumsi bahwa; hanya ada dua jenis realitas. Yakni; realitas objektif dan realitas subjektif.

Apalagi bagi mereka yang sudah kadung tenggelam dalam berbagai macam dogma. Berbagai informasi yang masuk melalui pikiran. Kemudian mengubah biokimiawi dalam otak, membentuk berbagai macam sensasi. Dalam kasus ini, malah sulit membedakan mana realitas, halusinasi, atau produk pikiran semata.

Dalam realitas objektif, sesuatu ada – secara independent dari keyakinan dan perasaan manusia. Gravitasi, misalnya, adalah sebuah realitas objektif. Ia ada jauh sebelum Newton, dan ia berdampak pada orang yang tidak mempercayainya, sebagaimana ia berdampak pada orang-orang yang percaya.

Sebaliknya, realitas subjektif sangat bergantung pada keyakinan dan perasaan personal manusia. Misalnya, saya merasakan nyeri hebat di kepala dan pergi ke dokter. Dokter memeriksa saya dengan teliti, tetapi tidak menemukan apa-apa. Maka, dia mengirim saya untuk tes darah, air seni, DNA, X-ray, electrocardiogram, scan fMRI, dan serangkaian prosedur lainya. Ketika hasilnya tidak ada apa pun, dia memberi tahu bahwa saya sehat sempurna. Dan saya bisa pulang!

Sekalipun tes objektif tak menemukan apa pun pada saya. Dan meski tak seorang pun kecuali saya yang merasakan  nyeri, bagi saya nyeri tersebut 100 persen riil!

Berbagai penyakit psikomatis, dapat dikatakan realitas subjektif pada manusia. Bagi pengidap, rasa nyeri yang dialami, 100 persen riil.

Kebanyakan dari manusia, menyangka, bahwa sebuah realitas hanya terbagi dua. Objektif dan subjektif. Hanya itu yang ada dalam dimensi pikirannya. Tidak ada opsi ketiga. Sehingga, mereka tidak mampu menilai berbagai fenomena sebagaimana adanya. Tidak mampu melihat hakikat dibalik berbagai hal yang terjadi. Tenggelam dalam delusi hingga mati!

Karena itu, ketika ia yakin dengan pemahamannya bahwa ada sesuatu yang bukan hanya perasaan subjektifnya sendiri, ia langsung menyimpulkan itu pasti objektif. Realitas. Kenyataan. Riil… Ini murni cara kerja pikiran. Hukumnya berlaku pasti.

Jika banyak orang percaya kepada dewa/tuhan; jika uang membuat dunia menyatu; dan jika nasionalisme memulai perang dan membangun imperium, maka hal-hal ini tidak hanya keyakinan subjektif. Maka hukum dalam pikiran akan menyimpulkan bahwa; Dewa/Tuhan, uang dan negara pasti realitas objektif!

Obatnya cuma satu! Kesadaran, bahwa; tentang adanya opsi realitas ketiga.  Realitas intersubjektif. Entitas intersubjektif bergantung pada komunikasi, antar banyak manusia. Bukan pada keyakinan dan perasaan individual manusia.

Ada banyak entitias dalam dalam perjalanan sejarah yang paling penting adalah intersubjektif. Uang, misalnya, tak punya nilai objektif. Anda tidak bisa memakan, meminum, atau mengenakan satu lembar uang kertas/coin. Namun selama milyaran orang percaya pada nilainya, Anda bisa menggunakannya untuk membeli makanan, minuman, atau pakaian.

Jika kemudian, tukang roti tiba-tiba kehilangan kepercayaannya pada uang rupiah, dan dia tidak mau memberi anda sepotong roti dengan lembaran kertas merah bertulis seratus ribu rupiah ini, itu tak akan berarti apa-apa. Anda bisa pergi ke warung lain terdekat. Namun jika semua kasir, para pedagang dipasar, dan setiap toko di mall, tidak mau menerima lembaran kertas merah tersebut, maka rupiah itu kehilangan nilainya. Lembaran kertas merah itu tetap ada, tentu saja, tetapi tak ada nilainya sama sekali.

Hal semacam itu, sesungguhnya, terjadi dari waktu kewaktu. Naik turun nilai uang di pasar global pun, adalah tentang sebuah kepercayaan. Tentang asumsi dalam pikiran manusia semata. Sebuah realitas intersubjektif!

Pada 3 November 1985, pemerintah Myanmar secara tak terduga mengumumkan bahwa uang nominal 25, 50, dan 100 kyats, tidak berlaku lagi. Orang-orang tidak diberi waktu untuk menukar uang-uang tersebut. Dan tabungan selama hidup, tiba-tiba berubah menjadi tumpukan kertas tidak berguna.  Untuk menggantikan uang-uang yang tak laku lagi itu, pemerintah memperkenalkan uang baru pecahan 75 kyat. Hal itu terjadi, diduga untuk menghormati hari ulang tahun ke-75 sang diktator Myanmar, Jendral Ne Win. Pada Agustus 1986, uang-uang pecahan 15 kyat dan 35 kyat diterbitkan. Rumor beredar bahwa sang Diktator yang punya kepercayaan kuat pada numerology, percaya bahwa 15 dan 35 adalah angka keberuntungan. Angka-angka itu membawa keberuntungan kecil bagi urusan-urusannya. Pada 5 September 1987, pemerintah tiba-tiba menetapkan bahwa semua uang pecahan 35 dan 75 tak berlaku lagi.

Nilai uang bukan satu-satunya hal yang bisa menguap, begitu orang berhenti mempercayainya. Hal yang sama juga berlaku pada hukum, tuhan, bahkan imperium. Pada suatu saat, mereka sibuk membentuk dunia, dan pada saat berikutnya mereka tidak ada.

Zeus dan Hera pernah menjadi kekuatan penting di daratan Mediteran, tetapi kini tak punya otoritas sama sekali. Karena, tak ada orang yang mempercayainya. Begitu juga berbagai tuhan-tuhan yang pernah ada setiap zamannya.

Soviet dulu pernah memungkinkan untuk menghancurkan seluru ras manusia. Tetapi, ia tidak eksis lagi berkat sebuah goresan pena. Pada puku 02.00 siang pada 8 Desember 1991, di sebuah wisma negara dekat Viskuli, para pemimpin Rusia, Ukraina, dan Belarusia, menandatangani Perjanjian Belavezha, yang menyatakan; “Kami, Republik Belarusia, Federasi Rusia dan Ukraina, sebagai negara-negara pendiri USSR (Uni Soviet Soscalist Russia) yang menandatangani Perjanjian Unio tahun 1922, dengan ini menyatakan bahwa USSR tunduk pada hukum internasional, dan sebagai sebuah realitas geopolitik telah mengakhiri kesistensinya.” Dan begitulah. Taka da lagi Uni Soviet!

Relatif mudah untuk menerima bahwa uang adalah sebuah realitas intersubjektif. Sebagian besar orang juga senang mengakui bahwa dewa-dewi Yunani kuno, imperium-imperium jahat seperti Fir’aun, dan nilai-nilai budaya asing adanya hanya dalam imaginasi.

Meskipun demikian, itu tidak berlaku sama ketika sudah berhubungan dengan saya atau kita. Kita tidak ingin menerima bahwa Tuhan kita, negara kita, atau nilai-nilai kita hanya fiksi belaka. Karena semua ini memberi makna dalam kehidupan kita.

Baca: Ritual Yang Membuat Anda Merasa

Manusia ingin percaya bahwa kehidupannya memiliki makna objektif. Dan bahwa pengorbanannya berarti untuk sesuatu di luar cerita-cerita dalam kepalanya. Tetapi fakta menyebutkan bahwa; sesungguhnya kehidupan manusia sebagian besar memiliki makna hanya dalam jaringan cerita yang saling mereka ceritakan.

Makna diciptakan, ketika banyak orang menjalin Bersama jaringan cerita Bersama. Mengapa sebuah perbuatan tertentu – seperti menikah di gereja, berpuasa bulan Ramadhan, naik haji, atau memberikan suara pada hari pemilihan umum – tampak bermakna bagi saya? Karena orangtua saya, berpikir bahwa itu bermakna, sebagaimana tetangga saya, orang-orang di kota-kota tetangga, dan bahkan penduduk di negeri-negeri nun jauh di sana, juga berpikir sama.

Setiap jaringan cerita bersama yang diceritakan bersama, orang terus menerus saling menguatkan. Membentuk sebuah keyakinan dalam suatu lingkaran yang membesar dengan sendirinya. Setiap lingkaran konfirmasi timbal balik menguatkan jejaring makna lebih jauh. Sampai anda tidak punya pilihan, selain harus percaya apa yang dipercayai setiap orang.

Anda bisa jadi sudah tahu bahwa; nilai uang itu adalah fiksi belaka. Sebuah entitas yang hidup dalam pikiran manusia semata. Tapi anda tidak ada pilihan selain ikut mempercayai dan membaur dalam sistemnya.

Anda bisa saja sudah tidak percaya lagi pada Dewa Zeus atau Hera, tapi ketika anda berada dalam lingkungan yang menganut kuat kepercayaan ini. Tetap harus berada dalam system otoritas dewa-dewi tersebut.  

Anda yang atheis di Indonesia, tetap harus tunduk dengan landasan dasar negara berupa Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sebuah realitas intersubjektif yang dianggap riil! Kecuali semua sudah sadar dalam tataran dimensi pikiran yang sama.

1 komentar untuk “Tentang Apa Itu Realitas Dalam Kehidupan Manusia”

  1. Mantap..mantap….sebuah pemaparan yang selama ini saya cari cari…,tentang mengapa sebuah keyakinan tetap mengakar di tengah masyrakat. Ternyata alasan nya adalah Intersubyektif yang dianggap riil.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *