Dalam spiritual, tuhan cuma simbol

Dalam Spiritual, Tuhan Cuma Simbol Saja

Tuhan cuma simbol saja, artinya tergantung definisi dan pengertian masing-masing. Otak harus dipakai, dan berani berpikir. Mengambil keputusan dan menjalankannya. Itu essensi dari spiritualitas Barat yg, menurut saya, jauh lebih bermanfaat dibandingkan spiritualitas tradisional di kepulauan Indonesia, apalagi yg mengharamkan penggunaan otak. Di dalam spiritualitas Barat tidak ada himbauan agar ego ditinggal.

Kalau ego ditinggal, apalagi dibuang, bagaimana otak anda mau dibawa berpikir? Lihatlah ke depan, tidak usah perduli orang lain bilang apa. Itu hidup anda sendiri. Tuhan saja tidak menghakimi anda, kenapa anda harus menghakimi diri anda sendiri? Kenapa harus menerima segala sampah yg dibawa orang lain ke hadapan anda? Kembalikan the sampahs kepada yg mengirimnya, dan nikmatilah hidup anda sendiri.

Itulah spiritualitas. Spiritualitas Barat yg sehat dan tidak masochistik. Masochistik artinya menikmati disakiti. Kita orang-orang normal, tidak masochistik. Tidak sadistik pula. Tidak suka menyakiti orang lain. Kita bukan penganut S/M. Bukan sadomasochistik. Mereka komunitasnya lain.

Kita bisa tailor-made, jahit sendiri, kita punya spiritualitas. Bisa ambil dari mana saja. Tidak ada haram dan halal. Haram dan halal ditentukan oleh orang lain. Kita tidak pakai itu. Kita bukan budak. Kalau kita berani dan mau pakai otak, kita bukan budak.

S/M artinya sadomasochistik, yaitu pasangan orang yg suka disakiti dan menyakiti. Ada yg sadis, dan ada yg masochist, dan mereka berpasangan. Terkadang menikah, dan menjalin hubungan najis full of nangis-nangis gatel as well as nikmat. Biarin aja. Urusan orang. Saya normal. Bukan S/M.

For your info, yg namanya rasa tidak dikenal di spiritualitas Barat. Kalau anda bicara rasa kepada orang Barat (yg laki), mereka akan garux-garux penis, yg mungkin punya rasa, yaitu rasa gatel.

Rasa (biasanya disebut Roso), adalah keyword, kata kunci dalam spiritualitas Jawa. Itu gerbang masuk untuk menciptakan manusia budak. Buang jauh-jauh itu roso, jati diri dan segala macam konsep sampah, and be yourself.

Roso Jawa bertujuan menghilangkan ego, the manusia akan menjadi rumput yg bisa bergerak kemana saja tergantung arah angin. Tujuannya supaya manunggaling. Manunggaling dengan siapa? Dengan yg membentuknya tentu saja. Dengan gurunya, Dengan pemimpinnya. Itu sistem perbudakan yg very lihay.

Ada dansa-dansi dari Maluku Selatan yg disebut Katreji. Saya bilang, aslinya ini dansa-dansi orang Portugis. Pastilah dibawa dari markas besar orang Porto di Melaka, dan masuk ke Maluku Selatan, lengkap dengan busana perempuan dan lelakinya. Busana perempuannya bukan busana Portugis, melainkan kebaya peranakan Cina. Yg busana Portugis pakaian prianya.

Dansa-dansi ini juga dikenal di Sulawesi Utara, sekarang sudah dianggap tarian “asli”, pedahal merupakan adaptasi (langsung atau bulat-bulat), dari budaya Portugis. Di Sulawesi Utara malahan lebih gila lagi, perempuannya pakai busana panjang gaya Eropa, dan lelakinya pakai topi.

So, orang Portugis menemukan jalan laut rahasia ke tempat pusat rempah-rempah bukanlah isapan jempol, melainkan fakta tak terbantahkan. Dan the pusat rempah-rempah adanya di kepulauan ini, yg belakangan disikat oleh Belanda. Portugis ditendang sampai tinggal punya wilayah sepotong di Timor bagian Timur. Dan Spanyol ditendang ke Utara, ke Philipina.

Whatever the case, dalam perkembangannya orang Maluku Selatan dan orang Sulawesi Utara tidak merasa dijajah oleh Belanda. Setahu saya begitu situasinya. Orang Ambon dan orang Manado termasuk mereka yg secara salah kaprah disebut orang “mardijkers” (= merdeka). Artinya orang-orang yg tidak diperintah oleh penguasa-penguasa pribumi. Mereka orang bebas. Bisa berbicara langsung dengan orang Belanda tanpa perlu menunduk-nunduk seperti orang di Jawa.

Pengalaman etnik-etnik Indonesia menghadapi pemerintah kolonial Belanda juga beda-beda. Tidak sama. Saya keturunan orang yg memang sudah turun-temurun bisa bicara setara dengan orang Belanda. Tidak minder. Tidak perlu menunduk-nunduk. Saya sudah mardijkers bergenerasi-generasi.

Thesis saya, orang-orang di Jawa begitu ngebet sama Belanda, mengira benar-benar ditindas, pedahal yg menindas mereka adalah para priyayi. Priyayi Jawa tidak kenal belas kasihan dalam menindas rakyatnya sendiri. Bahkan sampai sekarang. Sekarang the priyayi Jawa sudah jadi politisi dan pegawai negeri. Mungkin, dan biasanya, termasuk militer juga. Itu fakta, think about that.

For your info, dansa-dansi semacam ini di jaman Bung Karno disebut Tari Lenso. Bung Karno gandrung sekali dengan Tari Lenso. So, segila-gilanya Bung Karno masih lebih Barat daripada kebanyakan orang spiritual di Jawa. Bung Karno tidak kampungan. Tidak norak. Bung Karno suka dansa-dansi juga. Malah punya band pribadi yg main di pesta-pesta yg diadakan Bung Karno, namanya Band “ABS” (Asal Bapak Senang). Surprise.. surprise..

Ini saya tulis karena saya lagi sebel sama orang-orang spiritual yg berlatar-belakang Jawa dan gila “asli”. Saya mau bilang, kita tidak ada yg asli. Kita semuanya hybrida. Campuran. Mixed. Kalau mau gila sama yg “asli”, anda bisa jadi gila beneran. Suwung, artinya gila.

Bahkan sampai sekarang lebih mudah bicara dengan orang Belanda dibandingkan bicara dengan mereka yg merasa berkedudukan tinggi di Jawa. Dengan orang Belanda anda bicara biasa saja, sama seperti anda bicara dengan saya. Dengan orang pribumi tidak begitu. Pribumi di Jawa suka melecehkan dan dilecehkan. Yg merasa berkedudukan suka melecehkan. Yg merasa tidak berkedudukan suka dilecehkan.

Namanya syndrome S/M. Sadomasochism. Suka menyakiti sekaligus suka disakiti. Sakit jiwa. Yg mengaku spiritual juga begitu situasinya di Jawa. Itu terjadi di kalangan keagamaan maupun kebatinan proper (yg sekarang disebut dengan istilah spiritual). Kalau merasa dirinya guru, maka kelakuannya dipongah-pongahkan. Kalau merasa dirinya murid, kelakuan dibuat merendah-rendah. Kampungan.

Saya pakai cara bicara orang Belanda, karena cara Belanda adalah cara internasional. Kalau saya pakai cara Jawa, saya akan merasa tertekan. Saya keturunan orang Mardijkers, sudah merdeka bergenerasi-generasi. Keluarga saya tidak kenal priyayi, tidak kenal ulama. We are kapirs.

Artikel ini ditulis oleh Leonardo Rimba dalam E-Booknya Meditasi Mata Ketiga

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top