Apakah Anda Benar-Benar Tetap Sadar Setelah Dipenggal?

Apakah Anda Benar-Benar Tetap Sadar Setelah Dipenggal -

A History of Head Loss

A History of Head Loss lucid decapitation 2
Ratu Anne Boleyn adalah salah satu yang dieksekusi dengan pemenggalan kepalanya dalam satu ayunan. HULTON ARCHIVES/GETTY IMAGES

Pemenggalan kepala dari tubuh, telah lama digunakan, dalam kehidupan sosial manusia. Sebagai alat eksekusi. Baik di luar hukum atau adanya sanksi negara.

Sebagai contoh, dalam Biblical Apocrypha, seorang janda bernama Judith, terkenal memotong kepala seorang jenderal Asyur bernama Holofernes, yang telah mengepung kota itu [sumber: Vatikan].

Sepanjang sejarah peradaban, sarana hukuman telah menggunakan praktik pemenggalan kepala. Bangsa Romawi menganggapnya, sebagai cara eksekusi yang lebih terhormat. Dan jelas, lebih menyakitkan praktik penyaliban. Dimana digunakan untuk mengeksekusi non-warga negara [sumber: Clark].

Di Eropa Abad Pertengahan, pemenggalan kepala digunakan oleh kelas yang berkuasa, untuk menghukum bangsawan dan petani. Akhirnya, sebagian besar dunia meninggalkan praktek hukuman pemenggalan kepala. Sebagai bentuk hukuman mati. Menganggapnya biadab dan tidak manusiawi.

Yang masih melegalkan praktek pemenggalan, dalam peradilan hingga hari ini, adalah negara-negara di Timur Tengah. Seperti Qatar, Arab Saudi, Yaman dan Iran [sumber: Weinberg].

Tidak manusiawi

Faktor-faktor yang dianggap praktek pemenggalan begitu brutal, adalah alat yang digunakan dalam pemenggalan, dan orang-orang yang menggunakan alat itu.

Kapak dan pedang, selalu menjadi alat pemenggalan yang disukai. Tetapi, walau alat bisa menjadi tumpul, namun tetap tunduk pada kekuatan fisik yang dimiliki algojo. Sementara, di beberapa budaya, seperti Arab Saudi, algojo sangat terlatih dalam pekerjaan mereka.

Dalam sejarah budaya, memungkinkan terjadi pelaku eksekusi yang tidak terampil. Seperti dimana yang bertindak sebagai algojo adalah orang-orang biasa. Tidak berpengalaman. Sehingga, sering dibutuhkan sejumlah pukulan ke leher dan tulang belakang, untuk memutuskan kepala dari tubuh. Yang berarti, proses kematian cukup menyakitkan dan menyiksa.

Guillotine diperkenalkan pada akhir abad ke-18. Sebagai alternatif pemenggalan yang dianggap manusiawi. Bertentangan dengan kebiasaan populer, instrumen tidak menggunakan nama dari penemunya. Dimana, ahli bedah Antoine Louis lah yang menemukan guillotine. Alat tersebut diambil dari nama, Joseph-Ignace Guillotin. Seorang dokter yang menyerukan cara yang manusiawi, untuk mengeksekusi terpidana. Dan memperjuangkan perangkat yang sekarang memakai namanya.

Dengan penemuan guillotine, eksekusi dapat dilakukan secara lebih efisien. Dan pasca-Revolusioner, Perancis secara resmi mengadopsi alat ini pada tahun 1792. Peningkatan efisiensi yang besar ini, menyebabkan teror di Pemerintahan Perancis, di mana lebih dari 30.000 orang, menderita guillotine hanya dalam 1 tahun saja. [sumber: McCannon]. Perancis menggunakan guillotine untuk eksekusi yang direstui negara, sampai pemenggalan kepala terakhir, pada tahun 1977.

Reputasi guillotine, sangat ditakuti di Prancis. Penulis Victor Hugo menulis, “Seseorang dapat memiliki ketidakpedulian tertentu pada hukuman mati, selama belum melihat guillotine. Dengan matanya sendiri” [sumber: Davies]. Yang jelas, sejak awal penggunaannya, banyak yang merasa bahwa, guillotine bekerja dengan sangat tepat.

Lanjut halaman 3;

Keunggulan guillotine dalam pemenggalan kepala

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top