Dark Night! 3 Bahaya Meditasi Yang Harus Anda Ketahui

Bahaya Meditasi

Di website keren ini, kita sudah berbicara cukup banyak tentang manfaat meditasi. Dan sekarang, kita bicara tentang bahaya meditasi.

Tidak ada yang tidak mengandung bahaya! Jika, dilakukan dengan salah. Atau setidaknya, tidak memiliki pengetahuan cukup ketika melakukan sesuatu. Demikian juga dengan meditasi.

Artikel ini saya tulis, terinspirasi dari informasi data base Google, saat mencari ide tulisan tentang meditasi. Dimana diketahui, ada cukup banyak orang-orang mencari informasi menggunakan kata kunci; “bahaya meditasi”.

Web Master

Meditasi kesadaran (mindfulness) — praktik duduk diam, fokus pada napas, lalu mengembalikan perhatian saat pikiran melayang — diakui memiliki segudang manfaat.

Berbagai penelitian pun menyatakan efek positifnya pada kesehatan mental. Misalnya, studi di Universitas Oxford menemukan bahwa mindfulness-based cognitive therapy (MBCT) mampu mengurangi kekambuhan depresi hingga 44%, setara dengan efektivitas antidepresan.

Namun, seperti halnya kegiatan lain, meditasi juga tidak terlepas dari potensi bahaya. Bagi Anda yang baru ingin memulai meditasi, ataupun yang sudah rutin melakukannya, penting untuk memahami sisi lain dari meditasi ini.

Dengan begitu, Anda bisa memetik manfaatnya secara optimal sekaligus meminimalkan risikonya.

Apa itu Bahaya Meditasi?

Potensi bahaya meditasi merujuk pada dampak negatif atau efek samping yang dapat terjadi pada praktisi, terutama ketika intensitas atau durasi meditasi tidak dilakukan dengan tepat.

Dan, atau ketika seseorang sudah memiliki kondisi mental tertentu yang belum ditangani.

Kembali seperti yang sudah saya singgung di paragraph awal, bahwa, seperti kebanyakan hal dalam hidup, ada potensi bahaya yang terkait dengan meditasi. Yang mungkin tidak Anda ketahui.

Pengetahuan tentang bahaya meditasi ini, sangat baik baik pelaku meditasi, dan atau Anda yang baru memulai meditasi. Sehingga, memungkinkan Anda untuk dapat memetik manfaat dan meminimalisir potensi bahayanya.

Juga memungkinkan Anda untuk dapat bermeditasi sesuai dosis yang dibutuhkan oleh kehidupan.

Dan bukan benar-benar tenggelam didalamnya. 

Note; ini standar normal kehidupan sosial manusia. Mungkin dalam beberapa sistem keyakinan memiliki versi sendiri.

Berikut tiga bahaya utama meditasi yang perlu diantisipasi:

1. Munculnya Perasaan Marah, Hampa, dan Ketakutan

Menurut Dr. Florian Ruths, psikiater di Rumah Sakit Maudsley, London, terdapat kasus “depersonalisasi” pada beberapa praktisi MBCT, di mana mereka merasa seolah menonton diri sendiri seperti film.

Kondisi ini memicu emosi sulit berupa perasaan terputus dan ketakutan.

  • Mengapa Berbahaya: Jika praktisi sudah menderita gangguan mental seperti depresi atau kecemasan, kondisi ini bisa memperburuk gejala.
  • Solusi: Pengawasan tenaga profesional, seperti terapis atau psikiater, sangat dianjurkan bagi mereka yang memiliki riwayat gangguan mental sebelum memulai meditasi intensif.

2. Perubahan Rasa Diri dan Gangguan Relasi Sosial

Proyek “dark night” di Brown University (AS) menemukan beberapa kasus meditator Buddhis yang terganggu oleh kenangan traumatis.

Profesor Willoughby Britton mencatat adanya “penyimpangan kognitif, persepsi, dan indera,” bahkan perubahan pada rasa diri.

  • Malapetaka Malam Gelap (Dark Night): Fenomena saat seseorang merasa seolah mengalami “kembaran jahat pencerahan.” Seseorang bisa merasa “hancur” dan kesulitan kembali ke kondisi normal.
  • Solusi: Batasi durasi meditasi terlalu lama, terutama dalam retret berminggu-minggu. Pendekatan bertahap dan bimbingan guru berpengalaman sangat dianjurkan.

Malapetaka Malam Gelap (Dark Night) adalah istilah yang merujuk pada kondisi ekstrem ketika seseorang mengalami fase “kembaran jahat pencerahan” akibat meditasi intens atau praktik spiritual mendalam.

Alih-alih merasakan kedamaian dan kejelasan batin, individu justru merasa “hancur” dan terasing dari realitasnya.

Fenomena ini dapat ditandai dengan sensasi kehilangan identitas, munculnya kenangan traumatis, gangguan emosional, hingga kesulitan beradaptasi dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa praktisi melaporkan terjadinya depersonalization atau derealization, di mana mereka merasa terpisah dari tubuh atau lingkungannya.

Kondisi ini sering kali dipicu oleh durasi meditasi yang terlalu lama (misalnya, berminggu-minggu dalam retret) tanpa pendampingan ahli.

Akibatnya, guncangan psikologis yang dihadapi dapat berlangsung cukup lama dan menghambat aktivitas normal, bahkan sampai memicu kekhawatiran akan kerusakan permanen pada kesehatan mental.

Untuk mengatasi atau mencegah fenomena ini, dianjurkan agar praktisi menjalani proses meditasi secara bertahap, di bawah bimbingan guru berpengalaman, serta tidak segan mencari dukungan profesional (terapis, psikiater) jika muncul gejala yang mengganggu.

3. Melemahkan dan Membuat Anda Pasif

Meditasi mindfulness sejatinya membantu menenangkan dan memfokuskan pikiran, tetapi dalam situasi sosial tertentu bisa membuat seseorang menjadi terlalu patuh atau pasif.

  • Efek Represif: Dapat dipakai untuk “menenangkan” individu sehingga tidak mengambil tindakan nyata terhadap ketidakadilan atau masalah sosial.
  • Solusi: Selalu ingat tujuan meditasi untuk memahami kondisi manusia dan mengurangi penderitaan, bukan sekadar menekan emosi.

    Kombinasikan meditasi dengan upaya positif dalam menyelesaikan masalah nyata.

Kesimpulan

Layaknya dua sisi mata uang, meditasi memiliki manfaat besar sekaligus menyimpan risiko terselubung. Pada dasarnya, tidak ada aktivitas yang benar-benar bebas bahaya jika dilakukan secara berlebihan atau tanpa pemahaman yang cukup.

  • Kenali Batas Diri: Setiap individu memiliki kapasitas mental berbeda. Jangan memaksakan diri bermeditasi dalam durasi panjang tanpa bimbingan ahli.
  • Lakukan Pendekatan Bertahap: Mulailah dengan waktu singkat, lalu tingkatkan durasi secara perlahan.
  • Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional: Jika Anda merasakan efek samping seperti depersonalisasi, emosi negatif yang intens, atau gangguan relasi sosial, konsultasikan dengan terapis atau psikiater.

Meditasi tidak selalu identik dengan ketenangan dan kedamaian. Justru, ia membuka ruang bagi segala macam materi psikologis — dendam lama, luka batin, trauma — untuk muncul ke permukaan.

Kuncinya adalah bersikap bijaksana: pahami bahwa meditasi hanyalah salah satu dari sekian banyak teknik hidup.

Gunakan sesuai dosis yang dibutuhkan, dan jangan ragu untuk berhenti sejenak atau mencari bantuan bila efek sampingnya mulai mengganggu.

Dengan begitu, Anda dapat memetik manfaat meditasi yang luar biasa, sekaligus menjaga kesehatan mental secara optimal.

3 komentar untuk “Dark Night! 3 Bahaya Meditasi Yang Harus Anda Ketahui”

  1. Berhati hati lah jika mencari referensi….
    Menurut saya,yg telah puluhan tahun belajar meditasi,tidak ada satu bahaya apapun yg saya temukan…apa lagi seperti yg ditulis.malah saya merasakan manfaat yg luar biasa didalam kehidupan saya setelah belajar bermeditasi.

    1. Saat meditasi, itu berpotensi memasuki kondisi trance. Dan asumsi yang didapat dari berbagai sumber itu akan mempengaruhi pengalaman meditasi. Beberapa orang yang terikat atau percaya pada hal-hal tertentu akan memberi dampak dalam prosesnya.

      Makanya, banyak orang bercerita tentang pengalaman meditasi yang berbeda antara satu dan lainnya.

      Memahami bahaya meditasi, memperkecil resiko itu terjadi.

  2. Benar, saya telah mengalami hal yang sama percis seperti yg di uraikan di atas, saya sudah 6 tahun berhenti meditasi namun perasaan seperti diatas masih menghantui saya setiap hari.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top