Kegilaan dalam agama - Sholat di jalan

Bipolar dan skizofrenia dari faktor relegius

Gila, identik dengan hal-hal negatif. Atau sikap/tindakan yang menyimpang dari suatu yang dianggap normal, bagi manusia kebanyakan. Namun, untuk berada pada kondisi kegilaan yang parah, ada tahapan. Melalui gejala-gejala tertentu.

Fase yang mudah terdeteksi, ketika sikap/tindakan cenderung mengarah pada hal-hal yang dianggap negatif. Namun, tidak banyak yang tahu, bahwa manusia bisa berada pada tahapan kegilaan dari hal-hal yang dianggap umum, sebagai sesuatu yang baik. Seperti dari faktor relegius.

Orang yang tiba-tiba relegius. Merasa dan mengaku terhubung dengan Tuhan. Berubah gandrung berpenampilan relegius. Jelas sulit untuk didetaksi. Apakah perubahan tersebut normal atau tidak. Alih-alih disebut memasuki fase kegilaan. Malah cenderung disebut mendapat hidayah.

Untuk mengenali fase kegilaan, secara umum, anda dapat membaca artikel sebelumnya;

Berikut adalah artikel yang diterjemahkan secara bebas oleh;  Reza Nurrohman dari situs Verywellmind . Berjudul Religious Factors in Bipolar Disorder.

Salah satu hal yang sangat lekat pada gejala mania atau hipomania pada gangguan bipolar adalah meningkatnya secara drastis minat dan aktifitas keagamaan. Namun hal ini tidak hanya unik pada gangguan bipolar saja. Tapi juga pada gangguan skizofrenia, schizophreniform disorder, schizoaffective disorder dan gangguan psikotik lainnya.

Misalnya: 
– Joko yang tadinya ibadahnya biasa2 aja, dia mulai rajin dzikir, mengaji, mendengarkan atau nonton ceramah, kemudian mengenakan pakaian yang mengidentikan ciri keagamaan dan ikut kegiatan kerelawanan dan lain-lain.
– Edi sebelumnya tidak terlalu religius, tapi kemudian tiba2 sering bicara soal Tuhan, wahyu, kiamat, dajjal, imam mahdi, iluminati, perang salib, jihad dll. Rajin membaca kitab suci tidak kenal tempat dan bahkan berceramah atau meneriakkan nama tuhan di sembarang tempat. ibadah di jalanan atau tempat yang tidak lazim lainnya. 
– Sonia seorang kristiani yang baik, tiba2 dia merasa bahwa di mata Tuhan ia tidak berharga, kemudian muncul dorongan bunuh diri dan mencoba bunuh diri. 
– Udin menderita bipolar disorder, ia mencari penghiburan dengan membaca kitab suci. Dan di situ ia mendapatkannya.

Dalam kasus Sonia dokter akan dapat mengenali adanya waham keagamaan. Namun pada kasus Joko dan Edi, dokter mungkin akan lebih berhati-hati. Sementara pada kasus udin, dokter lebih bermurah hati menghargai kebutuhan pribadinya karena ibadah dianggap membantu mengelola diri. Kecuali bila ia mulai membangun keyakinan bahwa hanya dengan ibadah saja semua penyakit bisa sembuh. Dan memutuskan berhenti berobat.

Professor H.G. Koenig, dalam tinjauan literatur yang ia buat menemukan, “Meskipun sepertiga orang yang mengalami gangguan psikosis mengalami delusi relijius, namuan tidak semua pengalaman religius dianggap psikotik.” Tentu saja, ujarnya, bila pengalaman delusi keagamaannya dirasakan bermanfaat bagi dirinya — seperti di kasus udin. Ketika delusi keagamaan tidak terlalu terlihat pada pasien, dokter harus mengamati lebih cermat keyakinan keagamaan dan perilaku keagamaan pasien.

Apa yang dimaksud dengan Delusi/Waham Keagamaan? Delusi adalah “keyakinan yang salah tapi dipegang teguh,” jenisnya antara lain paranoid atau waham kejar (persecutory delusions), waham rujukan (delusions of reference), waham kebesaran (delusions of grandeur), waham kecemburuan (delusional jealousy) dan lain-lain. Berbagai macam waham, dapat muncul dalam konteks relijius. Contohnya:Religious paranoid delusions: “Iblis mengawasiku setiap saat, membuntutiku kemanapun, ingin menghukumku bila melakukan hal yang tidak mereka sukai,” 
Atau 
“Bila akau mengenakan sepatu, Tuhan akan membakar sepatuku untuk menghukumku, sehingga aku harus berjalan dengan kaki telanjang kemanapun aku pergi.”

Halusinasi pendengaran (Auditory hallucinations), yang membisikkan kalimat seperti, “Suara2 itu terus mengatakan bahwa ada iblis di dalam kamarku,” seringkali bergabung dengan paranoia keagamaan.Religious delusions of grandeur: “Tuhan telah memuliakanku, wahai kalian orang biasa. DIA mengatakan aku tidak membutuhkan bantuanmu, aku tidak membutuhkan obatmu. Aku akan naik ke surhga dan kalian akan tenggelam dalam neraka yang kekal,” atau “Akulah nabi dan rasul. Akulah Isa. Akulah Dajjal. Akulah Imam Mahdi. Akulah Satrio Piningit.” Dan seterusnya.

ASPEK BUDAYA DALAM DELUSI/WAHAM KEAGAMAAN

Pada negara yang keragaman budaya tinggi delusi keagamaan tidak sebesar pada negara yang keragaman budayanya kurang beragam. Di Amerika yang didominasi budaya kristen, 36 persen pasien mengalami delusi keagamaan. Dan dalam kasus waham kejar, makhluk yang mengejar umumnya adalah makhluk supranatural dalam konteks kristiani daripada sosok supranatural islam atau buddhist.

Peran besar aspek budaya yang kuat pada fluktuasi kejadian delusi agama selama 20 tahun di Mesir ternyata terkait meningkatnya intensitas pola trend keberagamaan.

Koenig mengungkapkan bahwa “Orang yang mengalami gangguan jiwa berat seringkali mencari pengobatan untuk mengobati delusi keagamaan yang ia alami. Di Amerika Serikat, sekitar 25-39% pasien skizofrenia dan 15-22% pasien mania/bipolar disorder mengalami delusi keagamaan.”

DAMPAK AGAMA DAN DELUSI AGAMA DALAM GANGGUAN PSIKOTIK

Ini wilayah, yang menurut para peneliti, butuh penelitian lebih lanjut. Tampaknya banyak sekali orang yang mengalami gangguan psikotik merasa bahwa keyakinan spiritual sebagai mekanisme koping yang penting. Bagi mereka yang tidak mengalami delusi, keyakinan keagamaan dan kegiatan keagamaan sebagai mekanisme koping telah diungkapkan dalan berbagai studi dapat membantu pemulihan penyakit.Sebaliknya, mengalami delusi keagamaan ternyata identik dengan perjalanan penyakit yang lebih buruk dan hasilnya juga memprihatinkan. Ada sebuah studi yang mengungkapkan bahwa pasien yang mengalami delusi keagamaan umumnya mengalami gejala psikotik yang jauh lebih berat, dan riwayat penyakit yang lebih panjang, serta lebih tidak berfungsi sejak munculnya gejala psikotik yang ia alami.Karena itu, sangat penting bagi psikolog dan psikiater untuk memahami perbedaan ini. Para peneliti mendesak para dokter untuk memasukkan evaluasi terkait keyakinan pasien secara menyeluruh dan mampu membedakan antara keyakinan keagamaan yang kuat dengan delusi keagamaan.

AGAMA, DELUSI, DAN PSIKOSIS

Adanya fakta bahwa budaya sebuah negara dapat berdampak pada munculnya kejadian delusi keagamaan menjadi menarik — khususnya ketika kita melihat adanya fakta penelitian yang mengungkapkan bahwa orang Protestant memiliki angka kejadian delusi keagamaan dua kali lipat lebih tinggi daripada pemeluk katolik atau agama lain.

Penulis dan para peneliti setuju pada satu hal — mereka yang bertugas memberikan terapi pada para penderita gangguan psikosis harus lebih sensitif pada keyakinan keagamaan non delusional dari pasien, memahami keduanya akan membantu dalam membedakan both mana yang delusi keagamaan mana yang bukan serta melakukan evaluasi mana yang dapat membantu proses pemulihan pasien.

Catatan tambahan dari Admin:

Gejala kegilaan, biasanya dikenali dari suatu gejala tidak normal. Masalahnya, hal-hal yang dianggap normal tidak ada standar baku. Artinya, sangat tergantung lingkungan itu sendiri.

Halusinasi, ditengah masyarakat yang percaya dengan dunia ghaib, cenderung dianggap suatu keghaiban itu sendiri. Ditengah masyarakat relegius, merasa terhubung dengan Tuhan adalah anugrah. Fenomena, delusi bertemu Tuhan malah dianggap sebagai suatu pencapaian dari puncak ritual keagamaan.

Orang yang perfeksionis rentan mendapat gangguan jiwa. Demikian juga Perfeksionis dalam agama. Juga dekat dengan gangguan psikosis yang menjurus pada delusi. Idealisme kesempurnaan, merupakan gagasan yang utopis. Sebuah dilema untuk menyebut mendapat ‘hidayah’ atau memasuki pintu gerbang gangguan kejiwaan. Dimana baru dapat disimpulkan saat memasuki kondisi parah. Seperti; dorongan melakukan tindakan radikal, bom bunuh diri, kebencian tinggi, dan lainnya.

Adalah penting untuk memahami fase gejala gangguan kejiwaan. Ini setidaknya dapat menjadi benteng dalam meminimalisir potensi kegilaan pada tingkat lanjut. Baik pada diri sendiri maupun orang-orang disekeliling anda.

Memang baik, untuk bertumbuh menjadi orang yang baik. Dimana salah satu jalan yang diyakini secara umum, yakni, melalui agama. Menjadi lebih tahu batasan antara; mabuk agama dengan taat beragama juga penting. Sangat halus, bedanya. Namun dengan wawasan dan ilmu pengetahuan akan membentuk nalar. Batasan tersebut dapat dilihat agak lebih jelas.

2 komentar untuk “Bipolar dan skizofrenia dari faktor relegius”

  1. Super sekali…, Saya jadinya seperti mendapakan instrumen untuk melihat gejala kegilaan ini, ditengah tengah masyarakat yang terdelusi oleh agama, dan adat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *