Gelombang Otak Manusia Secara Teknis Dalam Hipnosis

Gelombang Otak Manusia Secara Teknis Dalam Hipnosis

Gelombang otak adalah bagian dari yang paling sering dibahas dalam dunia hipnosis. Berikut penjelasan tentang gelombang otak manusia.

Kalau kita pergi ke rumah sakit, laboratium, atau ke pusat-pusat penelitian fungsi otak manusia, maka kita bisa menemui EEG atau Electroencephalogram dan Brain Mapping. Kedua alat tersebut digunakan untuk mengamati aktivitas otak manusia. Perbedaannya adalah Brain Mapping hanya memeriksa secara fisik. Untuk mengetahui adanya gangguan, kerusakan atau kecacatan otak, misalkan tumor otak, pecahnya pembuluh darah otak, benturan pada kepala dan seterusnya. Sedangkan EEG memeriksa getaran, frekwensi, sinyal atau Gelombang Otak (Brainwave) yang kemudian dikelompokkan kedalam beberapa kondisi kesadaran.

EEG merupakan teknik penggambaran aktivasi otak dengan jenis yang berbeda. Baik dari sensasi fisik (penglihatan, suara, sentuhan, taste, senyum) atau aktivitas lainnya. Selain itu, ada juga tehnologi FMRI (Functional Magnetik Resonance Imaging). Scan FMRI merupakan penambahan peralatan umum untuk pemetaan otak dalam ilmu kognitif.

Getaran atau frekwensi adalah jumlah pulsa (impuls) perdetik dengan satuan hz (hertz). Berdasarkan riset selama bertahun-tahun di berbagai keilmuan, frekwensi otak manusia berbeda-beda untuk setiap fase sadar, rileks, tidur ringan, tidur nyenyak, trance, panik, dan sebagainya. Frekwensi otak akan selalu berbeda sesuai kondisi pikiran dan fisik seseorang. Setiap frekwensi memberi pengaruh berbeda terhadap kondisi pikiran maupun fisik manusia.

Gelombang Otak GAMMA (16 hz – 100 hz);

Gelombang Gamma cenderung merupakan yang terendah dalam amplitudo dan gelombang paling cepat.  Gelombang gamma dalah gelombang otak (brainwave) yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktivitas mental yang sangat tinggi, misalnya sedang berada di arena pertandingan, perebutan kejuaraan, tampil dimuka umum, sangat panik, ketakutan. Kondisi Gamma adalah kondisi dalam kesadaran penuh. Berdasarkan penyelidikan Dr. Jeffrey D. Thompson (Center for Acoustic Research) di atas gelombang gamma sebenarnya masih ada lagi yaitu gelombang Hypergamma (tepat 100 Hz ) dan gelombang Lambda (tepat 200 Hz).

Gelombang Otak BETA (di atas 12 hz atau dari 12 hz s/d 19 hz)

Beta, merupakan Gelombang Otak (Brainwave) yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktivitas mental yang terjaga penuh. Anda berada dalam kondisi ini ketika Anda melakukan kegiatan Anda sehari-hari dan berinteraksi dengan orang lain di sekitar Anda. Frekwensi beta adalah keadaan pikiran Anda sekarang ini, ketika Anda duduk di depan komputer membaca artikel ini. Gelombang beta dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu high beta (lebih dari 19 Hz) yang merupakan transisi dengan getaran gamma , lalu getaran beta (15 hz -18 hz) yang juga merupakan transisi dengan getaran gamma, dan selanjutnya lowbeta (12 hz ~ 15 hz). Gelombang Beta di perlukan otak ketika Anda berpikir, rasional, pemecahan masalah, dan keadaan pikiran di mana Anda telah menghabiskan sebagian besar hidup Anda.

Gelombang Otak SMR (Sensori Motor Rhytm) (12 hz – 16 hz)

Gelombang SMR sebenarnya masih masuk kelompok getaran low beta, namun mendapatkan perhatian khusus dan juga baru dipelajari secara mendalam akhir-akhir ini oleh para ahli, karena penderita epilepsy, ADHD ( Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) dan Autism ternyata tidak menghasilkan gelombang jenis ini.

Gelombang Otak ALPHA ( 8 hz – 12 hz )

Alpha adalah Gelombang Otak (Brainwave) yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami relaksaksi atau mulai istirahat dengan tanda-tanda mata mulai menutup atau mulai mengantuk. Anda menghasilkan gelombang Alpha setiap akan tidur, tepatnya masa peralihan antara sadar dan tidak sadar. Fenomena Alpha banyak dimanfaatkan oleh para pakar hypnosis untuk mulai memberikan sugesti kepada pasiennya. Orang yang memulai meditasi (meditasi ringan) juga menghasilkan gelombang alpha. Frekwensi alpha 8 -12 hz, merupakan frekwensi pengendali, penghubung pikiran sadar dan bawah sadar. Anda bisa mengingat mimpi Anda, karena Anda memiliki gelombang alpha. Kabur atau jelas sebuah mimpi yang bisa Anda ingat, tergantung kualitas dan kuantitas gelombang Alpha pada saat Anda bermimpi.

Gelombang otak Alpha juga terjadi ketika kita mengalihkan perhatian kita ke dalam, jauh dari urusan dan masalah realitas fisik sehari-hari.

Gelombang Otak THETA ( 4 hz – 8 hz )

Theta adalah Gelombang Otak (Brainwave) yang terjadi pada saat seseorang mengalami tidur ringan, atau sangat mengantuk. Tanda-tandanya napas mulai melambat dan dalam. Selain orang yang sedang diambang tidur, beberapa orang juga menghasilkan Gelombang Otak (Brainwave) ini saat trance, hypnosis, meditasi dalam, berdoa, menjalani ritual agama dengan khusyu.

Gelombang Otak DELTA (0.5 hz – 4 hz)

Delta adalah Gelombang Otak (Brainwave) yang memiliki amplitudo yang besar dan frekwensi yang rendah, yaitu dibawah 4 hz. Otak Anda menghasilkan gelombang ini ketika Anda tertidur lelap, tanpa mimpi. Fase Delta adalah fase istirahat bagi tubuh dan pikiran. Gelombang Delta adalah gelombang yang paling rendah pada otak Anda, otak tidak akan pernah mencapai frekwensi 0 hz, karena jika otak Anda dalam kasus ini Anda akan mati!

Gelombang Otak Hipnosis

Gelombang Alpha dan Theta sangat sering dibahas, termasuk dalam dunia hipnosis. Karena, kondisi trance terjadi saat manusia dalam kondisi gelombang otak tersebut. Dan atau, ketika manusia dalam kondisi gelombang otak tersebut maka secara otomatis masuk dalam kondisi trance atau hipnosis.

Hal ini pun juga sesuai dengan sebuah jurnal ilmiah yang berjudul Increased Theta and Alpha EEG Activity During Nondirective Meditation. Jurnal ini diterbitkan oleh The Journal of Alternative and Complementary Medicine pada tahun 2009.

Dari penelitian yang dilakukan gelombang theta dan alpha adalah kondisi yang di dapat ketika meditasi. Pada gelombang tersebut manusia seperti merasakan sebuah pengalaman baru yang menenangkan dan nyaman.

Perlu di ingat bahwa ketika trance, tidak berarti tidak sadar. Namun sebaliknya, kita sangat sadar akan lingkungan di sekitar kita. Sangat sadar namun dalam kondisi fokus sehingga memungkinkan menerima sugesti.

Banyak yang salah kaprah dalam hal ini. Dimana subjek merasa sulit masuk trance karena menganggap dia harus dalam kondisi tidak sadar.

Dalam dunia hipnosis mengenai trance. Ada sebuah indikator seberapa dalam trance subjek yang perlu diketahui. Indikator tersebut berupa skala. Banyak para ahli hipnotis terdahulu yang membuat skala ini. Seperti L Davis dan R Husband, L Lecron dan J Bordeaux, Harry Arons, dan lainya.

Dalam hal ini, salah satunya skala Hary Arons. Skala ini termasuk yang populer dan paling simpel. Sebuah organisasi hipnosis dunia National Guild of Hypnotists juga menggunakan skala ini pada training mereka.

Tabel Arons scale:

Level 1 Hypnodial

Hypnodial adalah kondisi awal ketika subjek mulai rileks, kebanyakan subjek akan merasa tidak terhipnosis. Namun Dalam kondisi rileks. Ada dua tipe hypnodial yaitu hypnopompic dan hypnoagogic.

Hypnopompic adalah kondisi ketika baru saja bangun dari tidur di pagi hari. Hypnoagogic adalah kondisi tepat sebelum kita tertidur di malam hari. Namun begitu, banyak sekali sugesti yang dapat di berikan dalam kondisi ini. Misalnya untuk membantu diet, berhenti merokok, mengontrol otot-otot sederhana seperti eye catalepsy (Kelopak mata tidak bisa terbuka), dan lain sebagainya.

Level 2 Light Sleep

Light Sleep adalah kondisi lebih rileks dari sebelumnya. Pada kondisi ini Anda dapat mengontrol kelompok-kelompok otot tertentu, misalnya tangan menjadi kaku dan lain sebagainya.Pada kondisi ini nalar logis subjek mulai terganggu dan dapat dimanipulasi.

Level 3 Partial analgesia

Partial Analgesia adalah kondisi kita dapat mengontrol keseluruhan sistem otot tubuh. Jika Anda pernah melihat sebuah atraksi seorang di hipnotis menjadi kaku dan di rentangkan di atas kursi, hanya kepala dan ujung kakinya yang menempel kursi. Hal itu terjadi dalam kondisi ini (tapi hal ini sudah terlarang untuk di lakukan). Anda bisa mencoba sugesti tidak bisa berjalan, dan bahkan bisa untuk sugesti analgesia (mati rasa) sebagian tubuh.

Level 4 Amnesic Stages

Amnesic Stages adalah kondisi dimana dapat meningkatkan pengaruh analgesia, bahkan subjek juga dapat diperintahkan untuk merasakan sebuah sentuhan (tentu saja tidak ada yng menyentuh sama sekali).

Di level in Anda mulai dapat memberikan efek amnesia. Seperti lupa nama, angka, alamat dan lain sebagainya.

Level 5 Beginning of Somnambulism

Beginning of Somnambulism adalah kondisi dimana disebut sebagai awal somnambulisme, Anda dapat melakukan banyak hal-hal keren di sini. Seperti anestesi (pembiusan/mati rasa) secara keseluruhan.

Banyak teknik untuk mengontrol rasa sakit dapat dilakukan.Yang lebih keren lagi di tahap ini Anda sudah bisa membuat subjek mengalami halusinasi positif. Artinya dapat melihat dan mendengar sesuatu yang tidak ada. Seperti melakukan sugesti subjek dapat melihat makhluk gaib. Age Regression (Kembali ke masa lalu) yang benar-benar terasa nyata, tidak hanya sekedar mengingat masa lalu.

Level 6 Profound Somnambulism

Profound somnambulism adalah kondisi kondisi terdalam. Anda dapat melakukan semua efek yang dapat di timbulkan melalui hipnosis. Efek yang hanya dapat di capai di tahap ini adalah halusinasi negatif, artinya subjek tidak dapat melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya ada.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *