Kenapa Sistem Keyakinan Dibahas Agar Muncul Sejatine Ingsun

Kenapa Sistem Keyakinan Dibahas?

Kenapa sistem keyakinan dibahas? Ini penting karena sangat berhubungan dengan kinerja pikiran. Memang akan menimbulkan konflik, namun anda tidak akan benar-benar bisa memberdayakan pikiran anda sebelum memahai cara kerja pikiran.

Kehidupan manusia sangat tergantung dengan sistem keyakinan. Sistem keyakinan dapat dikatakan sebagai aplikasi atau program dalam anda menjalani hidup. Manusia cenderung tidak bisa lepas dari sistem keyakinan untuk bisa merasakan sensasi hidup. Bahkan, kondisi emosi dan mental anda sendiri terbentuk melalui sistem keyakinan.

Rasa percaya diri atau rendah diri itu juga bentuk dari sebuah sistem keyakinan. Bahkan, menarik atau tidak menariknya manusia juga bagian dari sistem keyakinan. Tidak hanya itu, ada begitu banyak penyakit yang bersarang didiri anda adalah produk sistem keyakinan. Ini akan dijelaskan secara terpisah pada bab lain nanti.

Memahami cara kerja sistem keyakinan akan membuat anda terbebas dari penjajahan pikiran. Terbebas dari belenggu yang membuat pikiran anda tidak bisa bekerja secara maksimal. Karena, kehidupan manusia sangat tergantung dengan kinerja pikirannya sendiri.

Memahami cara kerja sistem keyakinan memungkinkan manusia bisa melihat bagaimana sistem keyakinan itu mempengaruhi kehidupannya. Sehingga, bisa tetap dipakai untuk hal-hal yang membawa kearah lebih baik. Dan anda bisa buang untuk hal-hal yang membuat tidak baik.

Dalam spiritual kuno; istilah sejatine ingsun atau kesejatian manusia itu bisa tercapai saat bisa terlepas dari sistem keyakinan. Sehingga mampu menggali dan mengolah potensi maksimal dari seorang manusia. Untuk itu, saya akan memberi semacam analogi tentang kesejatian manusia.

Saat lahir kedunia, manusia bisa diibaratkan sebuah komputer canggih tapi masih kongsong. Tanpa program Operating System (OS), tanpa aplikasi apa pun. Siap dibikin dan dibuat untuk apa pun. Bisa untuk pengolah data, desain grafis, editing video, atau hanya sekedar ngetik atau main games.

Pada komputer, langkah awal yang dilakukan adalah menginstall OS. Umumnya yang mayoritas dikenal seperti; Microsoft Windows, Linux, Mac OS (Machintosh), UNIX, dan masih banyak lagi.

Pada manusia OS tersebut semacam pikiran. Cara/pola pikir. Keyakinan atau sistem kepercayaan. OS pada manusia terbentuk dari tradisi, kebudayaan, agama, pola asuh, lingkungan, pengalaman dari; apa yang dibaca, dilihat, dirasa sepanjang hidup.

Pada komputer, OS saja belum cukup. Untuk bisa beroperasional dengan baik sangat tergantung aplikasi pendukung. Seperti; Corel Draw (untuk desain grafis), PhotoShop (editing photo), Microsoft Office (untuk pengolah data, ngetik surat, dll), Movie Maker (editing video) dan masih banyak lagi jenis lainnya.

Pada manusia, aplikasi pendukung tersebut semacam keahlian khusus. Hal ini didapat dari ketertarikan, minat, situasi dan kondisi. Sehingga akhirnya tumbuh dan berkembang sebagai apa. Seperti; tukang, penyanyi, petani, penjahit, penari, penulis, dukun, dokter, pilot dan lain sebagainya.

Jika komputer biasa saja bisa di upgrade atau downgrade, ya manusia juga bahkan bisa lebih dari itu. Dan secara berkala, normalnya ya harus diupgrade agar bisa menyesuaikan perkembangan zaman.

Begitulah deskripsi sederhananya. Tidak sama persis sebenarnya. Manusia lebik kompleks lagi. Namun secara garis besarnya kira-kira begitu.

Sekarang fokus pada manusia. Karena tulisan ini memang dikhususnya untuk para manusia. Sejatinya manusia.

Siapakah saya? Siapakah kita? Apakah kita benar-benar mengenal siapa diri kita saat ini?

Oh… saya penulis, saya wartawan, saya dokter, saya seorang bapak, saya seorang ibu rumah tangga, saya PKS… eh, maksudnya saya PSK, Saya pejabat, saya jagoan, saya penjahat, saya penari, penyanyi, dan lain sebagainya.

Oh.. saya orang India, Saya orang China, Saya orang Arab, Saya orang Indonesia, Amerika, Africa, Myanmar, Irak, Oh.. saya Indian, Saya dayak, saya Jawa, saya, Sunda, saya Melayu, dan lain sebagainya.

Oh… Saya Muslim, Saya Kristen, Saya Budha, Saya Hindu, Saya Shinto, Saya Agonistik, Saya Atheis, Saya Kejawen, Saya Sunda Wiwitan, Saya Kampret, Saya Kecebong, dan lain sebagainya.

Saya orang kaya, saya orang miskin, saya orang sukses, saya orang depresi, saya orang terpuruk, saya ah.. sudahlah…

Jika itu, berarti kita adalah produk pikiran. Yang terbentuk oleh tradisi, kebudayaan, agama, pola asuh, lingkungan, pengalaman dari; apa yang dibaca, dilihat, dirasa sepanjang hidup. Terbentuk oleh situasi kondisi, tempat, waktu, zaman dan lainnya.

Dan biasanya, kita cenderung tenggelam oleh itu. Terserap oleh itu. Merasa sebagai itu.

Kita merasa diri kita sebagai OS. Merasa sebagai; Windows, Linux, Mac OS (Machintosh), UNIX, atau lainnya. Bahkan ironisnya, merasa sebagai aplikasi-aplikasi yang terinstall dalam pikiran kita. Merasa sebagai Corel Draw, PhotoShop, Movie Maker, MS Office, atau lainya.

Ya kita tenggelam dalam berbagai program dan aplikasi. Bahkan tidak sedikit yang tenggelam sebagai virus yang juga terekam dalam pikiran kita.

Dan, lupa bahwa kita itu komputer yang maha canggih tadi. Lupa dengan sejatinya diri. Alias tidak sadar. Sederhana, tapi bukan perkara gampang untuk menyadarinya.

Sejatine ingsun, sejatinya diri, itu – Ya kita sadar bahwa kita bukan produk pikiran. Bukan aplikasi yang terinstall dalam pikiran. Bahkan kita tahu, kita bukan produk dari keyakinan yang terekam dalam pikiran kita.

Kita bisa lahir dimana saja, dalam kondisi apa saja, pada waktu kapan saja, dalam lingkungan yang bagaimana pun saja, tapi kita sadar bahwa kita sang komputer maha canggih. Kesadaran itu lah sejatinya kita. Sejatine ingsun!

Membicarakan tentang sistem keyakinan, hakikat atau esensi sistem keyakinan sangat berpotensi terjadinya pertentangan. Tapi jika tidak dilakukan, bagaimana mau memaksimalkan potensi seorang manusia. Bagaimana mau memberdayakan alat maha canggih bernama pikiran.

Ketahuilah bahwa; pikiran adalah sesuatu yang sampai saat ini belum ditemukan batasannya. Masih sangat berpotensi untuk memikirkan hal-hal baru. Hal-hal yang belum terpikirkan oleh manusia sebelumnya. Batasan kemampuan pikiran adalah sejauh mana manusia itu sendiri menetapkannya. Kata ketidak mungkinan adalah pernyataan yang akan menghentikan kemampuannya. Niat, kehendak, kebutuhan adalah daya yang memicu kemampuannya.

Para penemu, pencipta, inovator dan manusia-manusia yang dianggap jenius adalah mereka yang mendayagunakan pikirannya. Manusia yang; Membiarkan, mendorong, memicu pikirannya untuk bekerja menemukan hal-hal baru. Mereka yang pikirannya merdeka!… Mereka yang lebih percaya pada spirit dalam dirinya yang berupa pikiran.

Tahukah anda bahwa; manusia zaman dulu sangat yakin bahwa kematian akibat penyakit jantung adalah kehendak Tuhan. Dan mereka yang tidak percaya, terpicu untuk menemukan sesuatu penyebab dari kematian tersebut. Meneliti, menganalisa, mencari penyebab, lalu berpikir untuk mencari solusi penyembuhannya. Dan saat ini, ada begitu banyak manusia terselamatkan dari kematian sebelum waktunya karena masalah jantung.

Sekali lagi saya mohon maaf, bukan berarti saya ingin melawan dan membongkar kebohongan berbagai sistem keyakinan yang telah mengakar kuat di alam pikiran manusia. Melainkan, sebuah upaya untuk mengajak anda melihat realitas. Bahwa; tidak semua yang diyakini itu sebuah kebenaran mutlak. Sebagian besar adalah keterbatasan manusia masa lalu dalam berpikir. Lalu menyebutnya itu kehendak tuhan. Ketetapan dari sang pencipta.

Ada begitu banyak realitas yang masih terselubung sistem keyakinan. Ada begitu banyak ketidak tahuan terkubur dalam oleh kebenaran versi sistem keyakinan. Dimana kemudian mematikan nalar dan membunuh kemampuan pikiran untuk mengetahuinya. Bersambung.. 

__// Tulisan ini bagian dari buku Neurolism

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top