Konsep Hati Nurani Itu Murni Sistem Keyakinan

Konsep Hati Nurani Itu Murni Sistem Keyakinan

Anda tidak perlu memiliki pendidikan tinggi untuk bisa tahu realitas. Anda tidak harus tergabung dalam sebuah kelompok atau apa pun itu. Realitas itu sesuatu yang ada dan kita tahu itu ada. Berlaku universal!

Hampir sebagian besar masyarakat dunia menggunakan konsep hati nurani. Meyakini ada peran hati nurani dalam kehidupan manusia. Banyak buku juga menulis tentang hal ini. Tentang apa itu hati nurani, cara kerja hati nurani, produk-produk yang diklaim tercipta melalui hati nurani.

Sejauh ini saya tidak tahu, siapa yang memulai tentang pemikiran ini. Yang jelas, konsep hati nurani sudah mengakar kuat didalam pikiran manusia.  Sudah mendarah daging dan tidak bisa dibantah lain. Dan ini juga berkembang dalam berbagai aliran kepercayaan berupa agama. Semakin kuat menjadi keyakinan yang hakiki. Ah.. hakiki!…

Saya selalu berupaya keras untuk membuka pikiran menerima berbagai konsep yang telah berkembang ditengah peradaban dunia. Dan pemikiran saya pun sangat dipengaruhi oleh peradaban dunia saat ini. Dan terus bergerak untuk hal-hal baru. Termasuk soal konsep hati nurani.

Dalam berbagai pembicaraan ditengah publik, saya juga mendapati banyak kata tentang konsep hati nurani.

Baiklah, sebelum kita melangkah lebih jauh lagi; kita harus menyepakati sesuatu agar satu persepsi. Ini juga untuk meminimalisir distorsi makna dari apa yang ingin disampaikan.

Pertama, bahasa verbal, simbol, isyarat adalah upaya manusia untuk menyampaikan suatu maksud. Bahasa dan istilah yang saya gunakan juga untuk menyampaikan suatu maksud. Tapi bukan maksud itu sendiri. Kita sepakat ya?!…

Seperti ketika saya menulis tentang kata spirit. Saya ingin menyampaikan suatu maksud. Dan maksud tersebut saya perjelas melalui deskripsi agar anda bisa memahaminya. Bisa ngeh. Bisa mengerti. Bisa merasakan. Bisa memaknai. Makanya saya sering memberi penekanan untuk menyatukan persepsi.

Saya juga tahu persis, jika sebuah kata atau kalimat yang disampaikan dalam mempersepsikannya tidak sama, maka tujuannya pasti tidak tercapai. Pasti terjadi missing link. Saya ingin menyampaikan apa, anda berpikir kemana. Sehingga bisa dikatakan bahwa kita berada dalam dimensi pikiran yang berbeda. Kita tidak tekoneksi. Ini sering terjadi ditengah peradaban dunia. Makanya dimensi pikiran manusia itu berbeda-beda.

Kita kembali soal kata spirit tadi. Saat saya menggunakan istilah spirit, maka yang ingin saya sampaikan adalah sesuatu yang ada namun tidak bisa dibuktikan secara fisik. Dan cakupannya saya persempit dalam kehidupan manusia. Yakni tentang spirit nyata manusia adalah pikiran dan kesadaran.

Berbicara tentang kata spirit, ada banyak orang untuk menggambarkan sesuatu juga. Jadi, kata spirit tidak melulu untuk tujuan seperti maksud yang ingin saya sampaikan. Ada begitu banyak orang menggunakan kata spirit untuk menjelaskan suatu maksud. Tidak ada soal. Yang penting anda mengerti dan tahu. Karena itu point pentingnya.

Karena bahasa, istilah, baik dalam bentuk verbal, visual, isyarat adalah upaya manusia untuk berkomunikasi. Menyampaikan suatu maksud. Menggambarkan sesuatu yang ingin disampaikan. Yang ingin disampaikan tersebut adanya dalam pikiran. Sesuatu yang masih dalam pikiran, sejatinya masih sama.

Contoh; Maksud dari sebuah kata perintah ‘kesini’ saat masih dalam pikiran sama persis. Namun saat dibahasakan secara verbal, bisa jadi berbeda. Kesininya orang Inggris menjadi ‘come here’, orang Korea ‘여기에 와서’, kesininya orang arab ‘تعال هنا’, kesininya orang Jerman ‘komm her’, orang sunda ‘kadie’, orang jawa ‘merene’, orang bisu menggunakan bahasa isyarat dengan melambaikan tangannya dengan gerakan dari luar kearah dirinya; seolah menarik sesuatu. Tidak menjadi persoalan tentang bahasa, istilah, atau isyaratnya. Yang penting hakikatnya sama-sama memahami. Ada sebuah perintah atau ajakan untuk mendekat. Ah sudahlah, anda tahu maksud saya. Ya kan?..

Saat saya menggunakan kata ‘Pikiran’ dan ‘Kesadaran’ disini, juga menjadi suatu istilah atau bahasa untuk menyampaikan suatu maksud. Yakni; Pikiran adalah sesuatu yang digunakan manusia untuk berpikir. Dan tanpa saya memberi penjelasan lebih lanjut, anda mengerti yang saya maksud. Anda bisa merasakan keberadaan dari pikiran anda sendiri. Jika tidak bisa, bagaimana anda bisa mencerna tulisan ini. Tulisan ini dicerna oleh pikiran. Fahamkan?

Ketika saya menyebut kata ‘kesadaran’ saya pun ingin menyampaikan suatu maksud. Ada sesuatu! Dan sesuatu itu adalah bagian dari diri manusia yang bisa menyaksikan pikiran. Sesuatu yang bisa memperhatikan, pikiran anda. Bisa jadi, sesuatu tersebut adalah pikiran juga. Tapi itu juga bukan sebuah persoalan. Yang penting anda memahami sesuatu tersebut. Dan anda dapat merasakannya. Ini sudah saya jelaskan di tulisan bagian lain.

Sesuatu yang saya sebut kesadaran, mungkin mempunyai bahasa lain pada orang lain. Saya berpikir bahwa kesadaran itu lah sang hidup. Nyawa. Jiwa. Sukma. Roh. Dan atau lainya. Yang pasti ada sesuatu. Sesuatu yang bisa memperhatikan pikiran. Memperhatikan bagian dari spirit yang disebut pikiran. Sesuatu yang ada dan anda pun memilikinya. Ada, saya tahu dan anda tahu keberadaannya. Berlaku universal.

Sama seperti angin, tidak terlihat tapi bisa dirasakan keberadaannya. Kita sama-sama tahu, kata atau bahasa ‘angin’ tersebut untuk menyampaikan suatu maksud. Dan kita mengetahui maksudnya. Saya kira anda sangat memahami yang ingin saya sampaikan disini.

Tapi, jika Nyawa, Jiwa, Sukma, Roh, tersebut untuk menggambar sesuatu yang lain, saya tidak tahu. Coba sekarang anda pikir-pikir, jika bukan sesuatu yang ingin saya sampaikan, maka ada sesuatu yang mana lagi? Adakah sesuatu selain tiga komponen kehidupan manusia berupa Pikiran, Kesadaran (nyawa), dan tubuh fisik?

Jika menyebutkan sesuatu yang tidak ada sebagai ada, itu namanya mengada-ada. Merekayasa. Inilah bentuk lain dari sistem keyakinan itu. Menyatakan ada sesuatu yang tidak ada. Yakin ada padahal tidak ada. Yakin dan percaya bahwa itu ada. Pokoknya ada. Lalu mencari alasan pembenaran dengan menyusun serangkaian argumen sekaligus klaim sebagai bukti keberadaan sesuatu yang tidak ada tersebut.

Lalu bagaimana dengan hati nurani? Ya, konsep hati nurani. Dimana diyakini menjadi bagian dari sistem kehidupan manusia.

Saya sudah membaca, berbicara pada banyak orang, berdebat panjang tanpa kesudahan, tentang konsep hati nurani. Anda sudah tahu bagai mana ketika orang sudah yakin? Yakin tentang adanya hati nurani? Ini tentang cara kerja pikiran yang sudah saya tulis sebelumnya, saat pikiran sudah yakin dan percaya; yang salah bisa jadi benar dan yang benar bisa jadi salah. Tidak peduli lagi realitas. Kecerdasan pikiran mereka digunakan untuk mencari alasan pembenaran dengan menunjukkan serangkaian klaim sebagai bukti produk hati nurani.

Mereka mendefenisikan berbagai kondisi dan fenomena sebagai produk dari hati nurani. Menggambarkan hati nurani sebagai alat kontrol yang dianggap memiliki nilai-nilai kesucian dan kebenaran. Sumber cinta kasih. Sumber sesuatu yang positif. Jadi saat manusia melakukan hal-hal yang baik, penuh kasih, moralitas, itu bagian dari dorongan kata hati nurani. Produk hati nurani. Intinya, hal-hal yang dianggap positif diklaim sebagai produk hati nurani.

Baiklah, ketika konsep hati nurani tersebut untuk menyampaikan suatu maksud tentang sesuatu yang bisa memperhatikan pikiran. Sehingga memunculkan kesadaran bahwa; selain pikiran ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan bisa mengontrol pikiran. Atau pikiran dalam bentuk lain yang mengontrol pikiran lain. Sehingga, manusia bisa mengambil kesimpulan-kesimpulan tanpa terjebak dalam permainan pikiran yang sangat teramat lugu. Atau sesuatu yang ingin saya gambarkan sebagai kesadaran. Tapi jika tidak, maka sesuatu yang mana lagi?

Ayolah, pikir-pikir lagi. Perhatikan lagi. Sadari lagi. Ada kah sesuatu selain pikiran, kesadaran dan tubuh fisik dalam kehidupan manusia. Jika ada yang mana? Dimana? Atau bagaimana keberadaannya?

Jika tidak ada, bukankah namanya mengada-ada. Menyatakan ada sesuatu yang tidak ada. Lalu berhalusinasi seolah ada. Yang ujungnya menjadi penyakit jiwa berupa delusi atau waham. Mempercayai sesuatu yang tidak ada sebagai ada.

Hati nurani itu murni sebuah konsep. Konsep sistem keyakinan. Anda harus yakin dulu, baru bisa dianggap ada. Murni buatan manusia.

Ada serangkaian argumentasi yang saya sering temui diluar sana tentang konsep hati nurani. Seperti pembentukan IQ, EQ dan SQ manusia. Karena menurut mereka ini bukan kinerja pikiran/akal/otak. Hati nurani menurut mereka; merupakan wilayah terdalam dari manusia. Sebagai hakim terakhir yang memutuskan segala perbuatan manusia. Setelah gagasan dari akal lolos dari filter hati sebagai pertimbangan.

Hati juga disebut-sebut memiliki berbagai lapisan. Setidaknya disebut ada tiga bagian. Pertama, kulit luar yang menentukan suka tidak suka, mendeteksi segala sikap orang lain, sikon , membentuk nilai-nilai etika, sikap/adab , membentuk rasa kasih. Lapisan kedua, merupakan pertimbangan/menganalisa/memfilter lagi keseluruhan poin-poin yang terdapat  di lapisan pertama untuk lebih dimatangkan lagi dimasa akan datang. Dan lapisan ke tiga inilah yang disebut paling dalam dan mulia, disini terdapat nurani. Dimana fungsinya sebagai final/finishing memutuskan segala prbuatan manusia. Menentukan perlu atau tidak perlu.

Akalah indentik dengan kebaik dan juga kejahatan. Tapi nurani secara umum identik dengan kebaikan karena menghasilkan kasih. Dan oh.. masih panjang lagi dan lebar lebar lagi penjelasannya. Tidak berkesudahan. Sangat melelahkan!…

Sekali lagi saya sepakat, jika kata hati nurani sebagai bagian dari sesuatu yang lain dari kehidupan manusia yang saya defenisikan sebagai kesadaran. Sebagai nyawa, roh, spirit atau apa pun namanya  yang bisa memperhatikan gerak pikiran. Produk pikiran. Tapi jika diluar itu, entahlah. Saya belum menemukan keberadaannya.

Sampai saat ini pun, mereka yang berada dalam sistem keyakinan konsep hati nurani juga tidak mampu menunjukkan keberadaannya. Atau memperkenalkan keberadaannya, sehingga semua manusia bisa menyadari keberadaannya.

Yang jelas, saat memahami ketiga komponen dari kehidupan manusia berupa; pikiran, kesadaran, dan tubuh fisik, maka secara otomatis bisa mengelolanya. Saat bisa mengelolanya, maka serangkaian produk yang diklaim hasil dari hati nurani pun terkelola dengan baik. Ini realitasnya. Realitas bahwa apa pun yang disebut sebagai implementasi hati nurani adalah produk pikiran.

Pengelolaan manusia melalui sesuatu yang bisa memperhatikan pikiran (kesadaran) akan mampu mengendalikan sistem dari kehidupan manusia itu sendiri. Ya, ada kesadaran yang bisa memperhatikan pikiran; sehingga kita memungkinkan mengelola pikiran kita. Pikiran yang terkelola dengan baik akan menghasilkan produk yang baik pula. Termasuk hal-hal yang dianggap positif untuk dilakukan manusia.

Standar moralitas, kasih, etika, nilai-nilai idealisme, tidak serta merta terbentuk begitu saja. Ada proses. Proses yang panjang sejak beradad-abad silam. Ada evolusi dalam cara berpikiran manusia. Dari yang dulu primitif hingga ke titik saat ini. Proses tersebut memungkinkan terjadi karena manusia mempunyai pikiran dan kesadaran.

Oh, maaf dalam sistem keyakinan juga ada yang tidak percaya sistem evolusi. Walau pun realitasnya, dari waktu ke waktu manusia mengalami perubahan. Baik secara fisik maupun pikiran. Manusia saat ini, berbeda jauh dengan manusia 10, 100, 1000, tahun lalu. Baik cara berfikir maupun fisiknya. Evolusi kecil-kecilan sebenarnya bisa dengan jelas dibaca melalui sejarah peradaban manusia.

Standar moralitas, kasih, etika, nilai-nilai idealisme, manusia primitif dengan yang saat ini jelas berbeda. Jika ada semacam alat berupa hati nurani yang menentukan standar tersebut; maka dipastikan sifatnya konstan. Artinya tidak perlu ada proses sama sekali. Tapi kenyataannya tidak!!..

Ada proses dan proses tersebut memungkinkan terjadi karena manusia mempunyai pikiran. Anda bisa tahu ada pikiran, karena anda hidup. Karena anda punya nyawa. Dan nyawa itu lah kesadaran itu.

Dan anda malah disuruh menggunakan hati nurani bukan pikiran!!.. Apalagi kesadaran!!.. Maka resmi sudah, pikiran anda dijajah melalui sistem keyakinan. Dijajah oleh orang-orang yang memahami cara kerja pikiran. Memahami bahwa pikiran adalah alat manusia yang teramat lugu; dimana cukup membuatnya percaya, maka yang salah bisa jadi benar dan yang benar bisa jadi salah.

Anda tidak bisa melihat sebuah realitas. Anda tidak bisa membedakan yang mana kebenaran menurut sistem keyakinan dan kebenaran yang berlaku universal. Anda terkurung dalam pikiran dan kesadaran yang tidak pernah digunakan.

Ya, anda yang berada dalam sistem keyakinan ada senyatanya manusia dalam jajahan. Anda tidak akan pernah menjadi manusia seutuhnya. Anda adalah jajahan yang kapasitasnya sebagai umat. Pengikut. Penikmat konsep bukan pembuat konsep!!..

Anda bisa tersadar ditengah perjalan hidup anda. Dan itu yang dinamakan berspiritual. Mengenal diri sendiri. Atau anda akan terus begitu sampai mati. Dalam buaian halusinasi sebagaimana manusia yang paling beruntung!!.. Ayo, pikir-pikir lagi, anda sekarang merasa sebagai apa?? Bersambung.. 

__// Tulisan ini bagian dari buku Neurolism

6 komentar untuk “Konsep Hati Nurani Itu Murni Sistem Keyakinan”

  1. Tulisan yang keren master….

    Saya sepakat, bahwa tidak ada yang namanya suara hati atau suara nurani…segala hal yang bisa menyimpulkan ini dan itu di dalam diri kita adalah pikiran..

    Lalu bagaimana proses suara hati nurani atau ilham itu ?

    Menurut saya..suara hati pada dasarnya adalah kerja pikiran dalam mentafsirkan getaran hati…feels atau vibrasi yang terjadi di dalam hati di tafsirkan oleh fikiran sesuai dengan jam terbang, wawasan, tingkat kesadaran, adat dan budaya….

    Makanya saya yakin, vibrasi atau getaran di dalam diri itu berlaku universal…rasa cinta, ketakutan, kasih sayang, semua berlaku universal..pemaknaan dan penyebutanya yang berlaku sesuai kondisi orangnya…

    Terimkasih atas web yang keren ini…

    1. Getaran pikiran yang dikenal sebagai feels atau vibrasi yang seolah menggetarkan dada (hati) adalah sebuah kondisi. Kondisi tersebut merupakan sensasi karena pikiran yang sedang bekerja dalam menterjemahkan informasi. Orang Islam akan merasa sensasi bergetar di dadanya (hati) saat mendengar suara azan, karena menurut pikirannya, suara tersebut memiliki makna yang mendalam. Namun tidak berlaku bagi orang2 yang diluar Islam. Sensasi getaran feels sangat dipengaruhi oleh pikiran itu sendiri.

  2. Setelah sya baca semua artikel anda,saya paham tapi membahsakan kembali sya belum mampu, ada yg blym sya pahami, matahari yg bersinar ,yg memancarkan panah,yg gk bisa disemntuh oleh oleh manusia apakah produk pikiran,halusinasi,atow hasil induksi pikiran..? Mintapencerahanya mas neuron

    1. Sinar dan rasa panas yang anda rasakan adalah sensasi kinerja sistem syaraf anda ketika menangkap adanya sesuatu. Sesuatu tersebut disebabkan oleh matahari.

      Sensasi yang dirasakan oleh manusia terjadi krn ada sebab. Bisa dari faktor eksternal maupun internal. Dari eksternal seperti Matahari tadi. Faktor internal adalah pikiran anda. Seperti, saat anda berpikir tentang cewek cantik, seksi dan bugil maka sistem syaraf anda akan memunculkan sensasi sensual.

  3. Ping-kembali: Mengenal Tuhan Dengan Rasa, Bagaimana Pula Ini? » NEUROLISM

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top